Selasa, 21 Desember 2010

IMAN DAN PERBUATAN

 Jerry H. M. Sumanti


 PENDAHULUAN

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.  Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Efesus 2:8-10.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Ibrani 11:6.

Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati. Yakobus 2:17.

 ARTI IMAN

Apakah arti dari Iman itu? Penulis Surat Ibrani mendefinisikan Iman itu sebagai berikut, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11:1.
Akar dari istilah Iman adalah “Percaya”[1] atau “mempercayakan.” Kata ini  dalam Alkitab  bahasa Yunani pisteuo (pisteuw) yang diterjemahkan percaya dan pistis (pistiV) yang diterjemahkan iman.

 IMAN DASAR KEHIDUPAN KRISTEN

Iman mendasari semua pengalaman Kristen Sejati.[2] Penulis Surat Ibrani menuliskan bahwa tanpa Iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6). Jadi dengan Iman membuat seseorang itu berkenan kepada Allah. Iman apa dan bagaimana yang dimaksud? Charles Stanley menulis bahwa iman bukanlah kekuatan yang dapat kita gunakan sewaktu-waktu. Iman bukanlah sebuah  jerat yang kita kalungkan ke leher Allah untuk memaksakan kehendak kita terhadap-Nya. Iman bukanlah suatu tombol yang dapat kita tekan untuk mendorong Allah bertindak, melainkan iman adalah kepercayaan bahwa Allah akan melakukan apa yang telah Ia janjikan.[3]
  
HUBUNGAN IMAN DAN PERBUATAN DALAM KONTEKS KESELAMATAN 

Perhatikan kembali Ibrani 11:6 ada dua hal penting yang ditulis oleh penulis surat tersebut yakni, 

Pertama, barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada. Bagian ini adalah berbicara tentang Iman dalam kaitan dengan Keselamatan. Barang siapa  berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan menyelamatkan. Allah yang dimaksudkan oleh penulis Ibrani ini sebagaimana sudah ditulis dan dijelaskan sebelumnya dalam pasal 1-10, yakni Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus yang sudah mempersembahkan diri-Nya menjadi korban sekali untuk selamanya untuk keselamatan bagi semua orang yang percaya. Dan Keselamatan dari Allah di dalam Tuhan Yesus adalah Anugerah Allah semata-mata, bukan karena hasil usaha atau perbuatan baik kita (Efesus 2:8-9).
Kedua, Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Bagian ini adalah berbicara tentang Iman dalam kaitan dengan Perbuatan, atau bukti Keselamatan.  Keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata, dan itu diperoleh setiap orang berdasarkan Iman, dan Iman itu dinyatakan melalui perbuatan. Dalam Ibrani 11:1 di sana ditulis bahwa Iman itu adalah dasar atau bukti dari segala sesuatu.
Dengan kata lain Iman itu adalah dasar atau bukti dari Keselamatan dan  Perbuatan, sehingga tepatlah apa yang ditulis oleh Yakobus, bahwa Iman yang tidak disertai perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17, 26).  Rasul Paulus menulis dalam Efesus 2:10 bahwa ketika seseorang diselamatkan oleh Iman di dalam Anugerah Allah, maka kepadanya juga dianugerahkan pekerjaan atau perbuatan baik dan Allah mau supaya hidup di dalam pekerjaan atau perbuatan baik tersebut.
Juga kepada Jemaat di Filipi Paulus menulis bahwa sebagai seorang yang sudah diselamatkan, haruslah mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (Filipi 2:12) dan itu menjadi bukti ketaatan dan bukti bahwa mau melakukan pekerjaan baik karena sudah diselamatkan, dan hal ini berkaitan dengan pembenaran dan pengudusan secara praktis sesudah terlebih dahulu mengalami pembenaran dan pengudusan secara status. Pembenaran dan Pengudusan secara status sudah terjadi sekali untuk selamanya pada saat seseorang menerima anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Sedangkan pembenaran dan pengudusan secara praktis berlangsung terus menerus sesuai dengan ketaatan kita selama di dunia ini sampai tiba pada pembenaran dan pengudusan final (Roma 8:23)
Jadi melalui beberapa kutipan ayat Alkitab tersebut di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Iman dan Perbuatan itu adalah dua hal yang berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Iman Selamat harus dinyatakan melalui Iman Perbuatan. Iman dalam kaitan dengan keselamatan adalah Iman yang  berhubungan dengan pengubahan status kita dari orang berdosa, tidak selamat menjadi orang benar dan diselamatkan. Sedangkan Iman dalam kaitan dengan Perbuatan adalah Iman dalam kehidupan praktis, sesudah diselamatkan, yakni Iman yang terus menerus diperbaharui sampai pada kesempurnaan di Sorga (Efesus 4:23-24; Kolose 3:10). Ibrani 11 adalah contoh orang-orang yang diselamatkan oleh Iman dan mereka membuktikan atau menunjukkan iman mereka tersebut melalui perbuatan. Hal inilah yang disampaikan dalam Yakobus 2:18, Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”
Iman harus ditunjukkan melalui perbuatan-perbuatan sehingga iman itu menjadi hidup bukannya mati. “Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa”, demikian tulis Rasul Paulus dalam Roma 14:23. Sedangkan dasar iman itu sendiri adalah Kristus. Bruce Milne menulis bahwa dasar iman adalah Kristus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita (Roma 4:25; Yohanes 1:12; 3:16; Kisah Rasul 16:30-31). Iman kepada Kristus berarti komitmen kepada Dia yang mati dan bangkit bagi kita.[4] Jemaat di Roma sebagaimana juga jemaat-jemaat yang lainnya yang dikirimi surat oleh Rasul Paulus adalah orang-orang beriman, artinya orang yang sudah diselamatkan oleh iman, memiliki Iman Selamat. Iman Selamat harus dinyatakan melalui Iman Perbuatan. Contoh kasus yang diangkat Rasul Paulus dalam Roma 14 di mana jemaat Roma tidak hidup di dalamnya. Mereka saling menghakimi, saling menjatuhkan dan membuat batu sandungan, saling mempersoalkan tentang makanan dan sebagainya yang bukan membangun dan mempererat kehidupan berjemaat. Paulus menegaskan bahwa semuanya itu adalah dosa karena tidak berdasarkan iman. Seharusnya tulis Paulus dalam Roma 1:17, bahwa kehidupan percaya mesti bertolak dari Iman dan memimpin kepada Iman, seperti ada tertulis bahwa orang benar akan hidup oleh Iman.
 
KEHIDUPAN PERCAYA: BERTOLAK DARI IMAN KEPADA IMAN

Ya, kehidupan percaya harus bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, artinya kita mesti hidup oleh iman. Iman itu dinyatakan melalui perbuatan. Lee Strobel menulis bahwa kita dapat menunjukkan iman kita setidaknya dengan dua cara[5], yakni: Pertama, kita bisa menjalani kehidupan Kristen yang rendah hati, jujur, otentik dan berserah. Kedua, kita dapat menunjukkan iman kita dengan cara melayani sesama dan orang asing dalam cara-cara praktis.
Jadi Iman dan Perbuatan itu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, melainkan saling melengkapi. R.C. Sproul menulis bahwa Relasi antara iman dan perbuatan baik merupakan suatu hal yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.[6] Iman yang tanpa perbuatan adalah mati, sedangkan perbuatan yang tidak berdasarkan iman adalah dosa. Iman dan Perbuatan kedua-duanya tak dapat dipisahkan dan sangatlah erat hubungannya dengan Penyelamatan, Pembenaran dan Pengudusan. Melalui iman dan perbuatan kita diselamatkan, dibenarkan dan dikuduskan.
R. C. Sproul menulis bahwa, kita dibenarkan berdasarkan iman saja, tetapi bukan hanya dengan iman itu sendiri. Pembenaran yang sejati selalu menghasilkan perbuatan-perbuatan baik di dalam proses pengudusan. Apabila ada pembenaran, maka pengudusan merupakan kelanjutannya. Apabila tidak diikuti pengudusan, maka dapat dipastikan bahwa sebenarnya tidak ada pembenaran. Ini tidak berarti bahwa pembenaran bergantung atau bersandar pada pengudusan. Pembenaran bergantung pada iman yang sejati, di mana sebagai akibatnya akan diikuti oleh ketaatan pada perintah Tuhan[7]  bukan karena kebaikan atau perbuatan baik kita. 

PENUTUP

 Mengucap syukur untuk keselamatan yang Allah berikan kepada kita melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib yang kita peroleh secara pribadi hanya berdasarkan iman saja bukan karena perbuatan baik kita. Sebagai wujud nyata bahwa kita sudah menerima keselamatan oleh Iman tersebut, tunjukkanlah itu melalui perbuatan atau pekerjaan baik yang juga Allah anugerahkan kepada kita.

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita (Kolose 3:17).

Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu (2 Timotius 2:15).





[1] R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran dasar Iman Kristen (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1997), 243.
[2] Bruce Milne, Mengenali Kebenaran (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 259.
[3] Charles Stanley, The Glorious Journal (Perjalanan Mulia)(Batam Centre: Interaksara, 2000), 277.
[4] Bruce Milne, 260.
[5] Lee Strobel, Bagaimana Aku bisa menceritakan imanku kepada orang lain?, dalam This We Believe (Batam Centre: Gospel Press, 2002), 327-328.
[6] R.C. Sproul, 255
[7] Idem, 255

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar