Jumat, 02 Oktober 2020

PEMBAHASAN KHUSUS FILIPI 4:1-21

 

SURAT RASUL PAULUS KEPADA JEMAAT DI FILIPI

PEMBAHASAN KHUSUS
FILIPI 2:1-11


“Hidup dalam Kesetaraan dengan Kristus yang tidak mementingkan diri sendiri (2:1-4) dan menjadikan Kristus sebagai Teladan (2:5-8) serta hidup menjadi kemuliaan bagi Allah (2:9-11).”

Oleh, Jerry H M Sumanti.

 

Latar Belakang:

Kota Filipi adalah sebuah kota koloni Romawi yang sebagian besar penduduknya adalah pendatang dari Italia yang tetap setia kepada kekaisaran Romawi. Filipi adalah sebuah kota di Makedonia Timur, Yunani. Kota Filipi dahulunya bernama Krenides, dari bahasa Yunani “Krene” yang artinya adalah “Mata air.”

 Penulis dan Tahun Penulisan:

Paulus adalah penulis Surat ini (Filipi 1:2). Ia menulis dari dalam penjara, boleh jadi di Roma, dan bila demikian surat ini ditulis antara tahun 61 dan 63 M. Beberapa orang beranggapan bahwa surat ini ditulis dari Efesus, berarti 10 tahun lebih awal dari anggapan pertama (51 dan 53 M).

Pada dasarnya surat ini merupakan surat'ucapan terima kasih' yang dikirim melalui Epafroditus untuk jemaat di Filipi atas pemberian yang telah mereka kirimkan. Surat ini datang dari Paulus dan kawannya, Timotius.

Alamat Surat:

Surat Filipi sesuai dengan namanya jelas ditujukan kepada Jemaat di Filipi. Jemaat Filipi adalah jemaat yang didirikan oleh Rasul Paulus bersama dengan kawan-kawan sekerjanya (Silas, Timotius dan Lukas). 

Paulus dan kawan-kawannya dipakai Tuhan sebagai pendiri jemaat ini. Di sana ia bertemu dengan kelompok wanita yang sedang berbakti di tepi sebuah sungai dan salah satu dari mereka, bernama Lidia, menyambut Injil (Kisah 16:14). 

Karena pemberitaan Injil kemudian Paulus dan Silas difitnah, dianiaya dan dijebloskan ke dalam penjara. Pada tengah malam, sementara mereka berdoa dan memuji Allah, terjadilah gempa bumi dahsyat yang menggoncangkan seluruh gedung penjara. Pengawal penjara yang menyadari bahkan menyangka bahwa para narapidana telah melarikan diri, hampir saja bunuh diri. 

Paulus menghalangi niatnya dan orang itu menangis memohon pertolongan sambil berkata "Tuan-tuan apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" (Kisah 16:30). Setelah mengetahui jalan keselamatan, bukan hanya pengawal penjara itu saja, tetapi seluruh keluarganya turut menjadi percaya.

 Pembahasan Surat Filipi:

Kita tidak akan membahas seluruh  Surat Filipi dalam pertemuan saat ini. Pertemuan saat ini kita hanya akan membahas bersama Surat FILIPI 2:1-11.

Dalam Filipi pasal 2:1-11 ini Rasul Paulus menekankan kepada jemaat di Filipi sebagai orang percaya tentang: “Hidup dalam Kesetaraan dengan Kristus yang tidak mementingkan diri sendiri (2:1-4) dan menjadikan Kristus sebagai Teladan (2:5-8) serta hidup menjadi kemuliaan bagi Allah (2:9-11).”

 I.            Persatuan Melalui Kerendahan Hati  (2:1-4)
1.  Hidup berpusat pada Kristus (Ayat 1)

a.       Dalam Kristus ada Nasehat

Istilah ini dapat diterjemahkan dalam  beberapa cara: "dorongan," "daya tarik," "kenyamanan", "pengobaran  semangat" atau "nasihat."  Frasa ini mirip dengan diskusi Paulus tentang sikap yang membawa dan memelihara kesatuan dalam Ef 4:2-3.

b.      "Dalam Kristus" adalah cara Paulus yang paling umum untuk mengidentifikasi orang-orang percaya. Untuk hidup, hidup sejati, hidup berkelimpahan, orang percaya harus tetap dalam persatuan yang penting dengan Kristus oleh iman (lih. Yoh 15).

c.       Dalam Kristus ada penghiburan kasih.  Kasih telah selalu menjadi akar dan buah bagi kehidupan orang percaya (lih. Yoh 13:34-35; 15:12,17; I Kor 13; Gal 5:22; I Yoh 3:11, 27; 4:7-21). Yesus hidup dalamnya, mengajarkannya dan memerintahkannya untuk para    pengikut-Nya melakukannya.

 d.      Dalam Kristus ada persekutuan Roh. Ini adalah istilah Yunani koinōnia, yang berarti "partisipasi bersama dengan"  (lih. II Kor 13:14). Istilah “persekutuan” (koinōnia) berarti

1)  hubunan dekat dengan seseorang

a) dengan Anak (lih. I Yoh 1:6; I Kor 1:9)

b) dengan Roh (lih. II Kor 13:13; Flp 2:1)

c) dengan Bapa dan Anak (lih. I Yoh 1:3)

d) dengan saudara/saudari seperjanjian yang lain (lih. I Yoh 1:3,7; Kis 2:42;

 Gal 2:9; Fil 17)

 2)    hubungan dekat dengan sesuatu atau kelompok-kelompoK.

a) dengan Injil (lih. Flp 1:5; Fil 6)

b) dengan darah Kristus (lih. I Kor 10:16)

c) tidak dengan kegelapan (lih. II Kor  6:14)

d) dengan penderitaan (lih. Fil 3:10; 4:14; I Pet 4:13)

 3)    anugerah atau sumbangan yang dilakukan secara berkemurahan (lih. Rom 12:13; 15:26; II Kor 8:4;  9:13; Fil 4:15; Ibr 13:16)

 4)    Anugerah pemberian Allah melalui Kristus, yang memulihkan persekutuan umat manusia dengan-Nya dan saudara-saudarinya

 e.      Dalam Kristus ada kasih mesra dan belas kasihan.  

1)      “Ada kasih mesra" Ini secara harfiah adalah "perut," yang juga digunakan dalam 1:8. Orang dahulu percaya bahwa organ dalam bagian bawah (perut) adalah pusat emosi. Kedua istilah ini juga digunakan dalam Kol 3:12.  

2)      "Belas kasihan" Paulus menggunakan istilah ini empat kali: (1) untuk menggambarkan karakter Allah (lih.Rom 12:1; II Kor 1:3) dan (2) untuk menggambarkan bagaimana orang  percaya harus memperlakukan satu sama lain (lih. 2:11; Kol 3:12). Tuhan ingin untuk menghasilkan karakter (gambar)-Nya pada anak-anak-Nya. Pemulihan gambar Allah yang hilang di saat Kejatuhan adalah tujuan kedatangan Yesus.  

 2. Hidup dengan sukacita sempurna di dalam  Kristus (Ayat 2)

 a. Sehati sepikir.

 b. Satu kasih.

 c. Satu jiwa.

 d. Satu tujuan.

Dalam bagian ini Rasul Paulus menghendaki agar jemaat Filipi dapat tentang mempertahankan kesatuan dalam persekutuan Kristen (lih. Rom 14:1-15:13; I Kor 8:1-13; 10:23-33).

Keinginan Paulus ini sangat penting, tidak hanya untuk jemaat Filipi pada waktu itu, tetapi juga untuk kita saat ini yakni:
1) mempertahankan kasih yang sama.
2) bersatu dalam satu juwa dan berfokus pada satu tujuan.
3) menganggap orang lain lebih penting
     daripada diri sendiri.
4) peduli pada kepentingan orang lain.

Waspadalah terhadap agama individualistik. Kekristenan adalah pengalaman kekeluargaan (kebersamaan).

3.   Hidup mengutamakan Kristus (Ayat 3-4)

a.       Tidak mencari kepentingan sendiri puji-pujian yang sia-sia (memuji diri sendiri) Ini mungkin menggambarkan situasi dalam gereja Filipi yang disebabkan oleh guru-guru palsu atau oleh penganiayaan (lih. 1:15,17; Gal 5:26).

b.      Dengan rendah hati menganggap yang lain  lebih utama daripada dirinya sendiri
 " Kerendahan hati bukanlah kebajikan yang dicari di dunia Yunani-Romawi, tetapi Kristus membuat sebuah aspek unik dari kehidupan-Nya sendiri dan meminta para pengikut-Nya untuk meniru dalam kehidupan Kristen mereka (lih. ay 8; Mat 11:29; I Pet 5:5,6). Ini adalah kebalikan secara kontekstual dari "keegoisan dan kesombongan yang kosong." Dan "yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri" Ini berlawanan dengan semua kecenderungan alamiah, kemanusiaan kita, tetapi merupakan kehendak Allah (lih. Rom 12:10; I Kor 10:24, 33; Gal 6:2; Ef 5:2).

c.       Tidak hanya memperhatikan  kepentingannya sendiri. " Ini biasanya berarti menghentikan  suatu tindakan dalam proses. Itu berarti "melihat  dengan penuh  perhatian pada sesuatu" (lih. II Kor  4:18). Istilah "kepentingan" dapat merujuk pada (1) benda-benda; (2)  karunia rohani, atau (3) urusan-urusan. Kunci sebenarnya di sini adalah kata "hanya." Ini bukan berarti bahwa orang percaya tidak boleh merasa tertarik pada urusan mereka sendiri (lih. I Tim 5:8), tetapi mereka jangan membuat hal-hal tersebut menjadi prioritas sehingga mengesampingkan orang lain, terutama orang percaya lainnya. Keseimbangan ini terlihat dalam Gal 6:1-2.  Orang-orang percaya harus mengawasi  dengan tajam diri mereka sendiri sehingga mereka dapat mengawasi orang lain. Hal ini menegaskan hubungan horizontal (manusia ke manusia) yang disebabkan oleh hubungan vertikal (manusia dengan Sang Pencipta). Hal ini juga menekankan perlunya dan sukacita dari komunitas Kristen. Kekristenan adalah kebersamaan!

d.      Tetapi juga memperhatikan kepentingan  orang lain

 II.            Kristus yang merendahkan diri-Nya (2:5-8)

          Menaruh pikiran dan perasaan dalam Kristus Yesus (Ayat 5). Orang-orang percaya diperintahkan untuk terus berpikir (phroneō) seperti Kristus. Sasaran dari keKristenan adalah    keserupaan dengan Kristus dalam pikiran  dan perbuatan (lih. Kol 3:16).  Orang percaya dinasihati untuk mengikuti teladan Kristus dalam dua cara:

(1) Ia meninggalkan, kemuliaan ilahi pra-ada-Nya untuk menjadi manusia, bukan untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk orang lain dan

(2) Ia rela mati, bukan karena dosa-Nya sendiri, tetapi karena dosa orang lain.

Pengikut Kristus harus meniru sifat memberi diri, perendahan hati ini (lih. I Yoh 3:16). Kita adalah penjaga dari saudara-saudara kita karena saudara kita ada di dalam gambar dan rupa Allah!

Kristus, tidak menganggap kesetaraan  dengan Allah itu sebagai milik yang harus  dipertahankan (Ayat 6). Secara harfiah ini adalah "berpikir bahwa bukanlah merampok untuk menjadi setara dengan Allah." Istilah Yunani "kesetaraan" masuk ke dalam bahasa Inggris sebagai "isometrik." Ini adalah cara lain untuk menyatakan bahwa Yesus adalah sepenuhnya Allah (lih. Yoh 1:1; Titus 2:13). 
 
Mengosongkan diri dan Mengambil rupa seorang hamba, dam menjadi sama dengan  manusia (Ayat 7).  Paulus menggunakan istilah ini beberapa kali (lih. Rom 4:14; I Kor 1:17; 9:15; II Kor 9:3). Rupanya Yesus memilih untuk hidup sebagai  manusia. Dia secara sukarela meninggalkan kemuliaan Illahi-Nya  dan menerima  keterbatasan daging. Tentu saja Dia masih memiliki wawasan dan kekuatan rohani yang  lebih besar dari manusia yang jatuh biasa. Dia menjadi menjadi manusia yang semestinya. Dia adalah Adam yang kedua dan lebih lagi. Istilah "hamba" (doulos) di sini dapat digunakan dalam arti Hamba yang Menderita dari Yes 42:1-9; 49:1-7; 50:4-11; 52:13-53:12. Yesus meninggalkan kemuliaan surgawi-Nya untuk sebuah palungan (lih. II Kor 8:9). Ini juga merupakan latar belakang dari ay 9-11. Ayat ini menekankan Inkarnasi Yesus, bukan penyaliban-Nya, yang dijelaskan dalam ay 8.

      Merendahkan diri dan taat sampai  mati di kayu salib (Ayat 8) Yesus mengikuti rencana kekal penebusan Bapa (lih. Luk 22:22, Kis 2:23; 3:18; 4:28) bahkan sampai penyiksaan fisik dan kematian. Salib adalah batu sandungan bagi orang Yahudi (lih. I Kor 1:23). Mereka tidak mengharapkan Mesias yang menderita, tetapi Mesias yang menaklukkan. Juga karena Ul 21:23, yang menyiratkan bahwa jika seseorang diekspos kepada publik setelah kematian, itu adalah tanda kutukan oleh Allah.  Orang-orang Yahudi tidak bisa memahami bagaimana Mesias mereka bisa dikutuk oleh Allah, tapi inilah kebenaran yang tepat dari Gal 3:13, bahwa Ia menjadi kutuk karena kita. Konsep Mesias yang menderita (lih. Kej 3:15; Maz 22) menjijikkan bagi mereka. Orang-orang Yahudi tidak bisa memahami bagaimana Mesias mereka bisa dikutuk oleh Allah, tapi inilah kebenaran yang tepat dari Gal 3:13, bahwa Ia menjadi kutuk karena kita.   Konsep Mesias yang menderita (lih. Kej 3:15; Maz 22) menjijikkan bagi mereka. Namun ini adalah cara bagaimana YHWH berurusan dengan masalah dosa manusia, penebusan perwakilan, penggantian Kristus (lih. Yes 52:13-53:12; Mar 10:45, Yoh 1:29; I Pet 1:19). Salib adalah kebenaran inti dari PB di mana kasih dan keadilan Allah bertemu dan digabungkan.

III.   Kristus yang ditinggikan (2:9-11).

Ia ditinggikan. Yesus dikembalikan kepada kemuliaan keIllahian pra-ada (lih. Ef 4:10). Dalam Injil Yohanes kematian Yesus disebut sebagai pemuliaan-Nya (lih. 7:39; 12:16,23; 13:31-32; 16:14; 17:1). Pelayan yang  rendah hati itu sekarang adalah Raja di atas segala Raja! Dan TUHAN di atas segala tuan!

       Ia dikaruniakan nama di atas segala nama. Nama khusus yang ditinggikan ini adalah    "Tuhan" (lih. ay 11). Istilah "TUHAN" adalah singgungan bagi nama perjanjian PL  untuk Allah, YHWH (lih. Kel 3:14; 6:3), yang orang-orang Yahudi takut untuk mengucapkannya jangan sampai mereka melanggar salah satu dari Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 20:7; Ul 5:11).  Oleh karena itu, mereka menggantikannya dengan nama Adon, yang berarti Tuhan, pemilik, suami. Yesus, yang datang dalam rupa seorang hamba, dikembalikan ke ketuhanan kosmik Nya (lih. Yoh 17:5; Kol 1:15-20). "Yesus adalah Tuhan" adalah pengakuan iman pribadi Gereja awal kepada masyarakat (lih. Rom 10:9; I Kor 8:6; 12:3). Yesus dari Nazaret diberi gelar tertinggi dari Ketuhanan (lih. Ef 1:21 dan Ibr 1:4).

       Kepada-Nya segala yang hidup akan bertekuk lutut.  Suatu saat nanti semua orang akan mengakui  Yesus sebagai Tuhan.  

a.    Sebagian orang akan percaya, menerima-Nya   menjadi Juruselamat dan Tuhan secara pribadi. 

b.    Dan pada akhirnya semua orang akan  mengakui-Nya sebagai Tuhan yang Mahakuasa pada Hari Tuhan dan dihakimi oleh-Nya (lih. Mat 25:31-48; Wah 20:11-15).

Frasa paralel dalam ayat ini merujuk pada malaikat, baik yang bebas dan terikat dan manusia, baik yang hidup maupun mati. 
 
Semua makhluk yang sadar akan mengakui Ketuhanan Yesus, tetapi hanya manusialah yang dapat ditebus. Ayat 10-11 tampaknya merupakan singgungan pada Yes 45:23, yang dikutip dalam Rom 14:11.  Dalam konteks aslinya itu adalah penyembahan YHWH yang kini telah ditransfer kepada Mesias (lih. Yoh 5:23). Pengalihan gelar dan fungsi antara YHWH dan Yesus adalah cara lain para penulis PB menegaskan Ketuhanan penuh dari Yesus. 
 
Segala lidah mengaku Yesus Kritus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah, Bapa. Pengakuan Ketuhanan Yesus ini adalah pengakuan iman mula-mula. Paulus menggunakan istilah ini sebagaimana ia menggunakan beberapa kutipan PL (lih. 2:11 dan Rom 14:11 dari Yes 45:23 dan Rom 15:9 dari Maz 18:49. Dan inipun akan menjadi pengakuan secara publik, lisan dari Ketuhanan Kristus, akan menjadi realitas akhir zaman. 
 
Tujuan akhir bagi pengakuan Ketuhanan Kristus adalah "bagi kemuliaan Allah, Bapa." Penyembahan Yesus adalah tujuan Allah Bapa dalam mengutus-Nya. 
 
Frasa "bagi kemuliaan Allah" ini berhubungan dengan gaya hidup orang percaya dalam 1:11 dan di sini di 2:11 untuk keselamatan mereka, yang dihasilkan melalui karya Kristus. 
 
Frasa kunci yang sama ini digunakan tiga kali dalam doa pujian Paulus kepada Allah Tritunggal di dalam Ef 1:3-14. 
 
Pada akhirnya Yesus akan mengembalikan segala kuasa, otoritas, dan pujian kepada Bapa yang memiliki-Nya (lih. I Kor 15:27-28).

 IV. Kerinduan Paulus bagi Jemaat Filipi dan bagi semua orang percaya saat ini

1.              1.   Untuk hidup mengutamakan orang  lain daripada dirinya sendiri.

            2. Untuk hidup dalam kesatuan (Sehati sepikir, Satu kasih, Satu jiwa, Satu tujuan). 

                    3. Untuk hidup berbeda dari orang yang  tidak percaya yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak          egoisme dan individualisme

            4. Untuk saling menasehati, menghibur, bersekutu dalam Roh dan mengobarkan kasih mesra dan               belas kasihan.

5.   Untuk tetap bersukacita senantiasa di  dalam Tuhan Yesus walaupun dalam keadaan kesulitan dan kesusahan.

6.           6. Pada akhirnya semuanya dan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan.