Senin, 29 April 2013

DISPENSASI PERJANJIAN



DISPENSASI PERJANJIAN
(Lanjutan)

 
KEGAGALAN KEHIDUPAN ISHAK DAN AKIBATNYA

Dalam Ibrani 11:20 dijelaskan bahwa karena iman maka Ishak, sambil memandang jauh ke depan, memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau. Berdasarkan ayat ini maka Ishak masuk dalam barisan tokoh-tokoh iman. Ishak sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan yang lalu bahwa Ia adalah ahli waris, anak penerus perjanjian. 

Namun walaupun demikian, sebagai seorang anak manusia Ishak tidak lepas dari kegagalan dan kelemahan. Salah satu kegagalan telah dijelaskan pada waktu yang lalu, yakni Ishak dan Ribkah sebagai orang tua membedakan kasih terhadap anak-anak mereka. Ishak lebih sayang kepada Esau, sedangkan Ribkah lebih sayang kepada Yakub. 

Akibatnya Ishak menderita dalam kebutaan dan sebagai ayah ia dibohongi Yakub anaknya. Esau sebagai anak sulung tidak menghargai hak kesulungannya, bahkan rela menukarnya dengan semangkok kacang merah dan karenanya ia tidak menerima lagi berkat kesulungan. Yakub menjadi penipu/pembohong, dan karena perbuatannya ia menderita dan menjadi seorang pelarian berpisah dengan keluarga, dan hidup dalam penderitaan dan ketakutan dan hidup dalam kelicikan. Ribkah sang Ibu harus rela berpisah dengan anak kesayangannya dan tidak lagi bertemu dengan anaknya sampai ajal datang menjemput.

Selanjutnya suatu ketika terjadi lagi bencana kelaparan di negerinya maka ia pergi ke Gerar, ke  Abimelekh, raja orang Filistin dan ia berniat untuk pergi ke Mesir. Tetapi di Gerar Tuhan menampakkan Diri kepadanya dan memberi ultimatum untuk tidak pergi ke Mesir (seperti telah dilakukan Abraham pada waktu terjadi bencana kelaparan yang sama) disertai dengan janji bahwa Tuhan akan memberkatinya dan memberikan negeri orang Filistin ini kepadanya dan kepada keturunannya (Kejadian 26:1-6). Ishak tidak jadi pergi ke Mesir dan menetap di wilayah orang Filitin ini sesuai dengan perintah Tuhan.

Tetapi suatu kesalahan yang pernah dilakukan Abraham kembali dilakukan oleh Ishak yakni, Ia tidak dengan terus terang mengatakan kepada Abimelek dan orang-orang Filistin bahwa wanita yang menyertainya itu adalah istrinya, tetapi mengatakan kepada mereka bahwa ia adalah saudaranya, dengan alasan karena takut jangan sampai dibunuh (Kejadian 26:7-9). 

Ishak memenuhi perintah Tuhan untuk menetap di Gerar, tetapi ia meragukan janji Tuhan bahwa Tuhan memberkati (melindungi) keluarganya). Akibatnya ia dan keluarganya diusir dari Gerar dan para penggembala kambing dombanya bertengkar dengan para penggembala orang Filistin mengenai persoalan sumur. Ishak menikmati berkat kelimpahan materi sebagai berkat Tuhan bagi kelangsungan kehidupan keluarganya, tetapi menikmatinya dalam kesukaran dan penderitaan. Semuanya itu menjadi tantangan dan rintangan serta pengujian dalam menapaki jalan menuju penggenapan perjanjian. 

Bersambung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar