Jumat, 26 April 2013

DISPENSASI PERJANJIAN



DISPENSASI PERJANJIAN
(lanjutan)


Oleh, Jerry H M Sumanti, STh
 
KEHIDUPAN ISHAK DAN RIBKAH.

Setelah Ishak menanjak dewasa, Abraham segera mencarikan pasangan hidup baginya. Pasangan hidup dari lingkungan kehidupan keluarga. Abraham membekali pengawalnya dengan berbagai macam harta benda dan memerintahkannya untuk segera berangkat menuju ke negeri leluhur untuk mencari pasangan hidup bagi Ishak. Sesuai dengan pimpinan dan petunjuk Tuhan, ditemukan pasangan hidup bagi Ishak dari sanak keluarga di negeri leluhur, yakni Ribkah. Ribkahpun menerima tantangan ini dan mau berangkat bersama dengan pengawal Abraham menuju tanah perjanjian dan menikah dengan Ishak. Kemudian Ishak dan Ribkahpun dinikahkan, membentuk keluarga baru, keluarga penerus perjanjian.
Ishak dan Ribkah menjadi pola kehidupan keluarga orang percaya baik pada masanya sesudahnya dan sampai kepada kita sekarang ini. Mereka adalah pasangan yang seimbang, sama-sama orang percaya, menikah dalam rencana dan kehendak Tuhan. Dalam kaitan dengan semuanya itu, baik pergaulan maupun pernikahan, Rasul Paulus menulis dan menegaskan bahwa pergaulan buruk akan merusak kelakuan yang baik (1 Korintus 15:33), dan tidak ada keseimbangan antara pasangan yang percaya dengan yang tidak percaya (2 Korintus 6:14). Sebagai orang percaya dalam pergaulan di tengah dunia yang semakin jahat ini, kita belajar menunjukkan perbuatan yang baik karena itulah ytang dikehendaki Tuhan untuk kita lakukan dalam kehidupan ini sebagi orang yang sudah diselamatkan (Efesus 2:10). Sedangkan bagi yang mencari-cari pasangan hidup, belajarlah dari kehidupan Ishak dan Ribkah ini. Demikian pula bagi kehidupan keluarga Kristen mari kita melihat sisi positif dan negatif dalam kehidupan Ishak dan Ribkah. 
Terlepas dari kehidupan mereka sebagai keluarga orang percaya, penerus perjanjian, merekapun adalah manusia biasa yang tidak lepas dari kelemahan dan kekurangan. Sesudah mereka menikah, mereka dikaruniakan dua orang anak (kembar), yakni Esau dan Yakub. 
Diceritakan bahwa Ishak lebih sayang kepada Esau sedangkan Ribkah sayang kepada Yakub (Kejadian 25:19-34), hal mana seharusnya tidak boleh terjadi demikian. Esau anak yang sulung sedangkan Yakub anak yang bungsu, tetapi sebelumnya Tuhan sudah memberitahukan kepada mereka bahwa Yakublah yang nantinya akan menjadi anak yang sulung dan penerus perjanjian. Esau lebih dekat kepada Ishak, dan tidak menghargai hak kesulungannya sehingga rela menukarkannya dengan semangkok kacang merah, sedangkan Yakub lebih dekat dengan Ibunya. Ribkah mengajarkan hal yang keliru terhadap Yakub, sehingga demi memperoleh hak kesulungan (yang memang natinya akan menjadi haknya), ia rela menipu Esau kakaknya dan Ishak ayahnya. Tindakan Ribkah kemudian membawa bencana dalam kehidupan keluarga. Yakub kemudian menjadi pelarian, berpisah dengan keluarga terutama dengan Ibunya yang sangat mengasihinya. Belajar dari kehidupan Ishak dan Ribkah, setialah kepada janji Tuhan dan janganlah mendahului rencana dan kehendak-Nya. (Bersambung).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar