Rabu, 02 November 2011

DISPENSASI KEINSYAFAN (KEHIDUPAN ADAM DAN HAWA DI LUAR TAMAN EDEN)

Jerry H. M. Sumanti, S.Th.


Pendahuluan
Dispensasi Kesucian dimulai pada Awal pencitaan di mana Allah menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden, dan berakhir pada saat mereka jatuh dalam dosa dan diusir keluar taman Eden. Di luar taman Eden tersebut kemudian Allah memulai dengan Dispensasi yang baru yakni Dispensasi Keinsyafan.
Peristiwa kegagalan Adam dan Hawa serta hukuman yang menimpa mereka dalam Dispensasi Kesucian dan akibatnya bagi semua manusia dan makhluk hidup lainnya dalam dispensasi-dispensasi berikutnya, ditulis untuk menjadi contoh, pelajaran, peringatan dan kebaikan bagi mereka yang mau mengasihi Tuhan (Roma 15:4, Roma 8:28, 1 Korintus 10:6, 11). Kita tidak lagi hidup dalam Dispensasi Kesucian, namun Allah melalui Firman-Nya mengingatkan kita untuk hidup dalam kesucian (1 Petrus 1:16).
Dispensasi Kesucian telah berakhir karena kegagalan Adam dan Hawa mematuhi perintah Allah. Mereka sekarang mengetahui dan sadar akan dosa dan kematian. Bumipun terkutuk adanya disebabkan oleh dosa manusia – penderitaan jasmani dan rohani, kelelahan, penyakit, kerja keras dan kematian sekarang menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Dosa (tidak patuh pada Allah) harus ada hukumannya, dan kematian menjadi hukuman bagi dosa (Roma 6:23a). Pada masa itu Allah tidak mengangkat seseorang sebagai raja atau penguasa sekalipun. Keinsyafan atau hati nurani manusialah yang menjadi pedomannya, karena manusia sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat (Kejadian 3:14-19).


A.    ADAM DAN HAWA DIUSIR KELUAR DARI TAMAN EDEN
Dalam pelajaran yang lalu telah dijelaskan bahwa Adam dan Hawa diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, diciptakan untuk menjadi partner Allah dalam mengelolah ciptaan-Nya. Mereka ditempatkan di Taman Eden, diberikan segala fasilitas dengan lengkap dan aturan-aturan yang mesti mereka patuhi. Namun mereka gagal dalam mematuhi semua perintah dan peraturan yang diberikan Allah walaupun sebelumnya sudah diberitahukan akibatnya apabila tidak mengindahkannya. Mereka memilih mati dari pada hidup. Akibatnya Tuhan Allah menghukum mereka dan diusir keluar dari Taman Eden untuk menjalani kehidupan di bawa penghukuman. Bumi terkutuk, tanah menumbuhkan semak duri tetapi manusia harus mengusahakannya dengan berpeluh demi kelangsungan kehidupan.  Adam dan Hawa hidup di bawa bayang-bayang pengetahuan baik dan jahat, dikendalikan oleh hati nurani. Di luar Taman Eden ini dimulailah Dispensasi baru, Dispensasi Keinsyafan. Adam dan Hawa dalam dispensasi iniberbeda dengan Adam dan Hawa dalam dispensasi Kesucian. Adam dan Hawa dalam dispensasi Kesucian adalah Adam dan Hawa yang suci, tanpa dosa, segambar dengan Allah. Sedangkan Adam dan Hwa dalam dispensasi Keinsyafan ini adalah Adam dan Hawa yang sudah berubah sifat dan karakter, merekatelah kehilangan gambar dan rupa Allah, kehilangan kesempurnaan, damai dan sukacita, hidup dalam berdosa karena melanggar perintah Allah (lihat kembali pelajaran yang lalu).
Kegagalan Adam dan Hawa mengakibatkan  semua manusia mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa sehingga sama sekali tidak dapat menyenangkan Allah (Roma 8:7-8, Efesus 2:1-2). Semuanya ini teerjadi pada saat Adam dan Hawa melanggar peraturan/hukum Allah. Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Kejatuhan mereka mengakibatkan perubahan yang sangat drastis dalam kehidupan mereka dan manusia pada umumnya. Kemuliaan Allah dalam diri manusia sirna seketika. 

B.     PENYEBAB KEJATUHAN MANUSIA KE DALAM DOSA
      Ada empat oknum yang terlibat, yang menjadi penyebab kejatuhan manusia dalam dosa,

  1. Lucifer
Dalam Alkitab (Yesaya 14:12) terjemahan bahasa Inggeris (KJV) kita temukan nama ini, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “Bintang Timur, Putra Fajar”. Dialah yang menjadi penyebab utama kejatuhan manusia ke dalam dosa. Lucifer pada mulanya adalah malaekat suci, malaekat mulia yang diciptakan oleh Allah. Namun akhirnya ia terbuang oleh karena pemberontakannya kepada Allah. Yang membuat ia terbuang adalah karena ingin menjadi sama derajat dengan Allah (Yesaya 14:12-14; Yeheskiel 28:11-19). Ia menjadi Setan, yang artinya adalah musuh Allah dan manusia (Efesus 6:11-12), atau Iblis yang artinya adalah pendusta/bapa segala dusta (Yohanes 8:44).

  1. Ular
Oknum kedua menyebab kejatuhan manusia ke dalam dosa adalah ular. Ular adalah ular bukan Setan, tetapi dalam beberapa kasus di Alkitab ular menjadi lambang atau simbol Setan. Dalam Kejadian 3:1-5, ular disebut sebagai binatang yang paling cerdik dari semua binatang yang diciptakan Allah. Karena kecerdikannya ini maka ia diperalat oleh Setan. Ia menjadi pengantara Setan yang licik untuk merusak kehidupan manusia yang suci.

  1. Hawa
Hawa adalah manusia kedua yang diciptakan Allah. Ia diciptakan dari sebuah tulang rusuk Adam. Diciptakan untuk menjadi penolong dan pendamping Adam untuk mengolah, menguasai dan menaklukkan serta memenuhi bumi ini (Kejadian 2:21-25; 1:26-28; 2:18). Dalam Kejadian 3:6, ia terpedaya dan terpikat oleh janji muluk Lucifer yang mengumpat dan memutar balikkan Firman Allah. Ia termakan oleh tipu rayuan gombal Setan dengan perantaraan Ular (2 Korintus 11:3; 1 Timotius 2:14).

  1. Adam
Adam, masunia pertama yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya. Kepadanya pada mulanya Allah memberikan perintah dan peraturan yang sangat tegas, tetapi apa yang terjadi? Tanpa bantahan dan penolakan, ia menerima dan menikmati buah yang dilarang oleh Allah untuk dimakan (Kejadian 3:6,17; 2:16-17; Roma 5:12, 15, 17).

C.     AKIBAT KEJATUHAN MANUSIA KE DALAM DOSA
Akibat manusia mengikuti jejak Lucifer, melanggar perintah Allah, memakan buah yang dilarang oleh Allah maka manusia jatuh dalam dosa dan membuat seluruh umat manusia keturunan mereka sampai sekarang berdosa (Roma 3:10-12, 23; Roma 5:12), dunia dengan segala isinya menjadi terkutuk (Kejadian 3:1 dst).
1.      Hubungan manusia dengan Allah terputus (Kejadian 3:8-9).
Hubungan manusia dengan Allah yang terputus ini, mengakibatkan manusia menjadi seteru Allah (Roma 5:10). Manusia menjadi terpisah dari dan dengan Allah (Yesaya 59:2). Manusia menjadi takut bertemu dengan Allah (Kejadian 3:8-9).
2.      Kehidupan manusia di bumi terkutuk.
Ketika manusia jatuh dalam dosa, bukan saja hubungan manusia dengan Allah terputus, melainkan juga kehidupan manusia di dunia ini menjadi terkutuk, baik manusia pertama Adam dan Hawa, juga manusia keturunan mereka sampai pada kita sekarang ini. Baik jasmani maupun rohani kehidupan manusia menjadi menderita.
a.       Dari segi jasmani, manusia khususnya kaum wanita mengalami sakit bersalin (Kejadian 3:16; 2 Raja-raja 2:19, 21). Manusia harus bersusah payah bekerja mencari nafkah untuk menopang kehidupannya (Kejadian 3:17-19) dan mengalami berbagai penderitaan jasmani (Keluaran 9:3, 9:10, 15:24, 16:3; 2 Raja-raja 4:38, 5:27; Mazmur 107:17-18; Matius 10:8; Roma 8:17-18). Hidup manusia menjadi rapuh dan sementara (Kejadian 5, 6:3; Mazmur 90:9-10) dan pada akhirnya mati (Kejadian 3:19; Ibrani 9:27).
b.      Dari segi rohani, manusia dihantui perasaan takut (Kejadian 3:10) dan saling menuduh serta mempersalahkan (Kejadian 3:12-13), merasa malu dan rendah diri (1 Samuel 18:8-14), mengalami kegelisahan dan kecemasan (Mazmur 55:3-6, 107:6, 13, 19, 28). Juga mengalami keletih lesuan baik jasmani maupun rohani (Mazmur 107:5; Matius 11:28).
c.       Dalam kehidupan manusia terjadi pertentangan batin (Galatia 5:17; Roma 7:15-23).Dari segi lingkungan sosial, terjadi permusuhan antara manusia dengan sesama dan dengan makhluk hidup lainnya (Kejadian 3:14-15; 2 Raja-raja 2:24). Tanah menumbuhkan semak belukar dan rumput duri sehingga manusia harus berusaha mengolahnya untuk dapat memberi hasil (Kejadian 3:18).
3.      Manusia berada di bawah ancaman hukuman kekal.
Kejatuhan manusia dalam dosa membuat hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antara sesama manusia serta dengan mahluk yang lain dan juga dengan alam ini menjadi tidak harmonis dan tidak bersahabat. Dan juga terlebih dari semuanya itu, hidup manusia berada di bawah ancaman hukuman kekal. Hukuman yang kekal merupakan keterpisahan untuk selama-lamanya dengan Tuhan. Hal ini akan dialami oleh manusia yang tidak mau berbalik ke jalan Tuhan. Pada akhir dunia ini, mereka yang tidak percaya dan menerima Tuhan Yesus akan mengalami penghukuman ini (Amsal 14:12; 16:25; Matius 24:13; Yohanes 3:36; Roma 6:23a; Wahyu 20:14-15).

D.    PENYATAAN KASIH ALLAH BAGI ADAM DAN HAWA
Manusia telah jatuh dalam dosa dan berada dalam ancaman keterpisahan selamanya dengan Tuhan, tetapi Tuhan tidak menghendaki demikian. Tuhan menghukum manusia yang berdosa, tetapi Dia juga mengasihi manusia dan menghendaki manusia untuk kembali dan diselamatkan. Pada saat manusia pertama Adam dan Hawa terpedaya oleh Iblis yang mengumpat dan memutar balikkan Firman Allah, pada saat itu pula mereka berdosa dan semua manusia menjadi berdosa dan tidak ada seorangpun yang benar, mencari Allah dan berbuat baik (Roma 3:10-12). Namun dalam ketidak berdayaan manusia mencari selamat, Allah datang dan menyatakan cara-Nya dari zaman ke zaman bagaimana manusia dapat selamat. Allah datang dan mencari manusia yang telah dihantui oleh ketakutan akibat melanggar perintah yang diberikan Allah. Dia datang mencari manusia karena Dia mengasihi manusia
Bukti kasih Allah nyata ketika Dia datang dan mencari Adam dan Hawa dan mengorbankan binatang dan membuatkan pakaian dari kulit binatang tersebut untuk menutupi ketelanjangan manusia (Kejadian 3:21). Apabila mereka tidak menerima pakaian rancangan Allah pastilah mereka akan tetap telanjang dan malu. Allah mencegah mereka makan buah pohon kehidupan agar mereka tidak akan terus menerus hidup dalam dosa (Kejadian 3:24). Dan bagi semua manusia, Allah menjanjikan seorang penyelamat (Kejadian 3:15 di samping berbicara akan hukuman perseteruan antara manusia dengan ular dan makhluk hidup yang lain, di dalamnya tersirat nubuatan seorang penyelamat yang akan menghukum Iblis). Janji ini telah digenapi di mana Allah sendiri datang ke dalam dunia ini menjadi manusia di dalam pribadi Tuhan Yesus Kristus,  menjadi hamba dan taat sampai mati di kayu salib untuk menebus manusia dari dosa dan Dia bangkit dari kematian sebagai tanda kemenangan bahwa maut telah dikalahkan (1 Korintus 15:1 dst; Galatia 3; Filipi 2:1 dst). Siapa yang percaya kepada-Nya (menerima Dia menjadi Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi) pasti diselamatkan dan yang tidak percaya pasti dihukum.

E.     PERATURAN-PERATURAN DALAM DISPENSSI KEINSYAFAN
       Manusia telah jatuh dalam dosa akibat tidak mematuhi peraturan yang merupakan larangan yang diberikan Allah kepada mereka di Taman Eden yakni, Jangan makan buah pengetahuan baik dan jahat sebab kalau memakannya mereka akan mati. Manusia telah menyerahkan diri berada di bawah akibat tuntutan hokum dari pada mematuhinya. Manusia mati. Hubungan dengan Allah menjadi putus, demikian pula dengan hubungan antara sesama mahluk hidup. Juga alam semesta ini menjadi tidak bersahabat.
        Kecuali peraturan larangan makan buah pengetahuan baik dan jahat ini telah dilangkahi, dan secara dispensasi ini telah berakhir/tidak berlaku lagi setelah mereka diusir keluar dari taman eden, Namun peraturan-peraturan lain yang disebutkan dalam Kejadian 1:26-30 tetap berlaku dan dilaksanakan dalam Dispensasi Keinsyafan ini, dan tidak ada aturan tambahan bagi manusia dalam menapai kehidupan di luar taman Eden. Kehidupan manusia berjalan menurut hati nurani masing-masing. Kehidupan manusia berjalan di bawah kutuk, di bawah ancaman hukuman dan penderitaan.
        Tanah terkutuk, menghasilkan rumput duri, tetapi manusia harus mengolahnya demi untuk kelangsungan kehidupan. Kehidupan menjadi tidak harmonis, tidak ada damai sejahtera, antara sesama makhluk hidup saling bermusuhan. Perempuan akan melahirkan anak-anak namun dalam penderitaan sakit bersalin. Kaum pria akan bekerja keras berpeluh dalam mengusahakan tanah ini. Dan pada akhirnya manusia dan makhluk hidup lainnya akan mati. Dampak dari semua ini tetap kita alami sampai saat ini dan akan berlangsung terus selama masih ada kehidupan di dunia ini dalam kecemaran dosa.
       
F.      Manusia berjalan menurut hati nurani sendiri
     Seperti telah dijelaskan di atas bahwa dalam dispensasi Keinsyafan ini tidak ada peraturan yang ditambahkan untuk mengatur kehidupan manusia. Manusia dalam dispensasi ini berjalan menurut hati nurani sendiri-sendiri, kemurut kesadaran sendiri. Manusia berbuat sesuatu menurut pandangannya sendiri entah itu baik atau jahat. Berikut ini contoh kehidupan manusia ketururan Adam dan Hawa yang berjalan dan berbuat menurut kehendak masing-masing.
        Ketika manusia telah diusir dan hidup dalam penderitaan di luar Taman Eden, manusia mulai berkembang biak dan memenuhi bumi sesuai dengan peraturan yang diberikan Allah ketika masih di Taman Eden, sebelum manusia jatuh dalam dosa. Di luar Taman Eden lahirlah dua orang anak bagi Adam dan Hawa, yakni Kain dan Habel, dan selanjutnya Set kemudian Enos, dan anak-anak laki-laki dan perempuan, dan manusia terus berkembang biak sampai pada zaman Nuh, masing-masing berjalan menurut hati nurani (keinsyafan/kesadaran) sendiri (Kejadian 4 – 6). (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar