Senin, 10 Januari 2011

AKHIR SUATU KEHIDUPAN (KEMATIAN)

Jerry H M Sumanti


PENDAHULUAN 

Berbicara mengenai akhir suatu kehidupan atau kematian merupakan hal yang sangat menakutkan bagi banyak orang. Kematian merupakan satu kehilangan yang sangat besar yang menyebabkan kesedihan dan dukacita. Berbagai cara ditempuh untuk menghindarkan diri dari kematian ini, tetapi pada akhirnya ia datang juga tanpa dapat dielakkan. Mengapa?

Kematian sudah menjadi bagian dari kehidupan ini. Kematian tidaklah bertentangan dengan kehidupan, itu bukanlah lawan dari kehidupan tetapi kematian merupakan peralihan dari hidup ini kepada suatu kehidupan yang lain sebagaimana dipercaya dalam berbagai-bagai agama dan kepercayaan.

Bagi kita, pedoman untuk membicarakan tentang kematian adalah Alkitab yang membicarakan mengenai kehidupan dan kematian.


PANDANGAN ALKITAB TENTANG KEMATIAN

Kematian merupakan bagian dari kehidupan ini. Kenyataan ini tak dapat disangkali. Mengapa ada kematian? Kematian ada karena pemberontakan manusia terhadap Allah. Alkitab menceritakannya.

Ada tiga macam kematian dijelaskan di dalam Alkitab yaitu: pertama, kematian rohani di mana hubungan manusia dengan Allah putus; kedua, kematian jasmani di mana kehidupan manusia mengalami kutukan dan tubuh akan kembali kepada tanah; dan yang ketiga, kematian kekal atau kematian kedua di mana tubuh, jiwa dan roh akan mengalami hukuman yang kekal dan terpisah dengan Allah selama-lamanya, dialami oleh mereka yang tidak berbalik kepada-Nya (percaya kepada Tuhan Yesus Kristus).

Kata kematian diterjemahkan dari kata dalam bahasa Yunani “tanatos” (bahasa Inggeris, death). Dalam Roma 6:23a Alkitab bahasa Indonesia Terjemahan Baru (TB) kata tersebut diterjemahkan “maut.” Kata kematian ini berarti “perpisahan.” “Upah dosa adalah maut …,” demikian Firman Tuhan melalui Rasul Paulus. Kata “maut” dalam ayat ini mempunyai beberapa pengertian yang berhubungan dengan macam-macam kematian tersebut di atas.

Pertama, hubungan manusia dengan Allah terputus. Hubungan manusia dengan Allah terputus bemula, ketika Adam dan Hawa melawan perintah Allah yakni ketika mereka memakan buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan, yang menyebabkan mereka mengalami kematian. Perhatikan ceritanya dalam kitab Kejadian pasal ketiga. Akibatnya Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Sejak itulah mereka dan keturunannya, termasuk kita semua yang adalah bagian dari darah dan daging mereka menjadi seteru Allah (Roma 3:23; 5:10). Adam dan Hawa menjadi takut bertemu dengan Tuhan, karena gambar dan rupa Allah dalam diri mereka telah rusak oleh kerena pelanggaran ini. Dosa menjadi pemisah antara Allah dengan manusia (Yesaya 59:2). Dengan demikian manusia terpisah dengan Allah dan menjadi musuh Allah (Roma 8:7-8; 1 Timotius 5:6), mati secara rohani dan jauh dari persekutuan dengan Allah (Efesus 2:1; Efesus 2:3, 3; Roma 5:12; Efesus 4:18; I Korintus 2:11).

Keterpisahan ini hanya dapat dipulihkan melalui Tuhan Yesus Kristus yang adalah pengantara antara Allah dengan manusia. Manakalah manusia mau menerima uluran tangan kasih Allah ini, maka hubungannya dengan Allah dipulihkan (I Timotius 2:5; Efesus 2:16).

Ketelanjangan Adam dan Hawa sebagaimana telah dikatakan di atas tidak mungkin terselubungi seandainya mereka tidak mau menyambut dan mengenakan pakaian kulit binatang buatan Allah. Pakaian mana merupakan simbol atau bayangan Tuhan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang mengangkut dosa manusia (Yohanes 1:29).

Dosa manusia tidak mungkin diangkut dan dihapus bersih jikalau manusia tidak mau percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan penebus dosanya. Manusia akan tetap dikuasai dosa yang membawa maut, tak mungkin keterpisahan dengan Allah dipulihkan.

Kedua, kehidupan manusia di dunia ini terkutuk. Perhatikan kembali kitab Kejadian pasal ketiga. Apa yang terjadi terhadap manusia pertama Adam dan Hawa? Kejatuhan manusia yang petama ke dalam dosa mengakibatkan seluruh umat manusia mengalami berbagai macam gangguan dan kelemahan jasmani maupun rohani. Manusia mengalami ketakutan (Kejadian 3:10); Antasa sesama saling menuduh dan mempersalahkan (Kejadian 3:14-15); Wanita mengalami penderitaan sakit bersalin (Kejadian 3:16); Kaum lelaki bersusah payah mencari rezeki di antara semak duri (Kejadian 3:17-19).

Ketiga, manusia mengalami kematian jasmani. Kematian jasmani juga merupakan bagian dari hukuman Tuhan bagi manusia sejak Adam dan Hawa menyimpang dari jalan Tuhan. Buktinya dalam kehidupan sehari-hari kita temukan, lihat dan dengar bahwa ada orang-orang yang mati. Bahkan Alkitab sendiri berbicara tentang kehidupan dan kematian. Ada yang lahir, hidup dan ada yang mati (Kejadian pasal lima; Pengkhotbah 3:2). Allah berfirman, “… sampai engkau kembali menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil …” (Kejadian 3:19). Dari tanah kembali ke tanah, itulah kematian jasmani. Penulis Ibrani mengatakan bahwa manusia telah ditentukan satu kali akan mengalami kematian dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27). Tak dapat disangkali baik mereka yang sudah percaya dan yang belum percaya, kematian jasmani merupakan bagian dari hidup ini (namun Alkitab juga menjelaskan bahwa ada orang yang tidak akan mengalaminya karena Tuhan Yesus Kristus datang di angkasa mengangkat orang percaya, yang telah mati dibangkitkan, diubahkan bersama dengan orang percaya yang masih hidup diangkat ke surga (I Korintus 15:51, 1 Tesalonika 4:13-18).

Kehidupan manusia dibatasi oleh umur. Umur manusia yang paling panjang yang diceritakan Alkitab adalah Metusalah. Ia mencapai umur 969 tahun, tetapi pada akhirnya mati juga. Demikian juga Adam sebagai manusia pertama, ia hanya mencapai umur 963 tahun kemudian itu ia mati. Pada zaman Nuh, Allah membatasi umur manusia hanya sampai 120 tahun. Dan dalam Kitab Mazmur, Pemazmur mengatakan bahwa umur manusia hanya sampai 70 tahun atau 80 tahun saja (Mazmur 90:10). Kematian jasmani merupakan bagian dari hidup ini tetapi kematian jasmani ini bukanlah akhir daripada kehidupan.

Kematian merupakan peralihan kepada kehidupan yang lain. Di balik kematian ini masih ada kehidupan yang lain, kehidupan yang kekal abadi. Bagi yang percaya kematian merupakan peralihan kepada pengharapan yang pasti hidup kekal di dalam Kerajaan Allah, sedangkan bagi yang tidak percaya tersedia kehidupan yang kekal di dalam lautan api, kematian yang kedua.

Kematian adalah bagian dari hukuman dan upah dosa (Kejadian 2:17; Yehezkiel 18:4); kematian adalah perpisahan tubuh dengan jiwa dan roh (Yakobus 2:26); kematian adalah pembongkaran dan penanggalan kemah (tubuh) (II Korintus 5:1; II Petrus 1:13-14); pemazmur melukiskan kematian sebagai turun ke tempat yang sunyi (Mazmur 115:17).

Keempat, Kematian kekal, kematian kedua. Kematian kekal atau kematian kedua adalah penghukuman yang kekal yakni kehidupan yang terpisah untuk selama-lamanya dengan Tuhan. Upah dosa adalah maut. Pasti upahnya akan diperoleh apabila tidak berbalik ke jalan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, “Maut dan Kerajaan maut akan dicampakkan ke dalam lautan api, itulah kematian kedua, lautan api” (Wahyu 20:14). Kematian kedua adalah kehidupan dan penghukuman yang kekal di dalam neraka, lautan api. Setiap orang yang nama-namanya tidak terdaftar di dalam kitab kehidupan akan mengalami hukuman kekal ini (Yohanes 3:36; Wahyu 20:15)


PANDANGAN-PANDANGAN TIDAK ALKITABIAH TENTANG KEMATIAN DAN JAWABAN TERHADAP PANDANGAN TERSEBUT.

Di atas telah dijelaskan bahwa kematian adalah bagian daripada kehidupan ini sebagaimana diajarkan Alkitab Ada kematian rohani, kematian jasmani, dan kematian kekal. Berikut ini pandangan-pandangan tidak Alkitabiah tentang kematian dan jawaban terhadap pandangan-pandangan tersebut.

A. PANDANGAN-PANDANGAN TIDAK ALKITABIAH TEBTANG KEMATIAN.[1]

Pertama, Pandangan bahwa kematian merupakan tidurnya jiwa. Pandangan ini merupakan pengajaran Advent Hari Ketujuh. Mereka berpegang pada ajaran ini dengan mendasarkan pada beberapa ayat Alkitab yang seakan-akan mengesankan bahwa kematian itu adalah tidur (Yohanes 11:11-13; Daniel 12:2; I Tesalonika 4:13, 14).

Kedua, Pandangan bahwa kematian merupakan hilangnya jiwa. Pandangan ini dianut oleh Dr. E.W Bullinger. Ia mengajarkan bahwa pada waktu Allah menciptakan manusia, Allah memberikan nafas kehidupan sehingga manusia menjadi jiwa yang hidup. Manusia bukan mempunyai jiwa, tetapi manusia itu sendiri adalah jiwa. Keberadaan jiwa tergantung dari manusia itu bernafas. Ketika manusia itu mati maka jiwanya juga mati, hilang tanpa keberadaan. Pandangan yang sama juga diajarkan oleh Charles Taze Russell dan merupakan pokok pengajaran Russellisme dan gerakan Saksi-saksi Yehowa yang mengajarkan bahwa manusia adalah jiwa, bukan mempunyai jiwa; kematian berarti pemusnahan, total tanpa keberadaan.

Karena menurut Saksi-saksi Yehowa kematian itu adalah pemusnahan sehingga mereka menolak tentang adanya tempat penghukuman sementara Sheol atau Hades dan Gehenna sebagai lautan api tempat penghukuman kekal. Menurut gerakan Saksi-saksi Yehowa bahwa Sheol atau Hades dan Gehenna bukanlah tempat penghukuman. Sheol atau Hades adalah kuburan di mana orang-orang mati ditempatkan, sedangkan Gehenna adalah lambang pemusnahan total bagi orang-orang jahat.[2]

Gerakan Saksi-saksi Yehowa ini mengajarkan pula bahwa ajaran tentang neraka tidak dapat dibenarkan karena sama sekali tidak sesuai dengan Alkitab; tidak masuk akal; bertentangan dengan kasih Allah dan bertentangan dengan keadilan.[3] Sheol atau Hades berarti tempat kuburan umum manusia, yakni keadaan di mana manusia yang baik maupun yang jahat, pergi dan beristirahat,[4] bukanlah tempat penderitaan yang panas.[5]

Ketiga, Pandangan Mery Baker Eddy (Christian Science). Mrs. Mery Baker Eddy mendefinisikan kematian sebagai suatu khayalan, soal tipuan hidup, tidak nyata dan tidak benar; lawan daripada hidup. Pandangan ini tidak mempunyai landasan Alkitab apapun, bahkan merupakan penyangkalan terhadap kenyataan dosa dan upahnya yaitu maut (mati) yang diajarkan Alkitab.

Keempat, Pandangan yang dianut oleh Swedenborg. Emanuel Swedenborg adalah seorang mistik Swedia dan seorang ahli filsafat dan pendiri Gereja Yerusalem Baru pada tahun 1783, menganut pandangan khusus tentang keadaan jasmani manusia. Ia percaya bahwa manusia mempunyai dua tubuh, tubuh luar dan tubuh dalam, tubuh jasmaniah dan tubuh batiniah. Pada kematian, ia berpendapat bahwa tubuh jasmaniah, tubuh luar kembali ke tanah dan tak pernah akan dibangkitkan. Sedangkan tubuh batiniah, tubuh dalam akan disatukan dengan jiwa dan berpindah ke dunia lain.

B. JAWABAN TERHADAP PANDANGAN-PANDANGAN TIDAK ALKITABAH TENTANG KEMATIAN TERSEBUT DI ATAS.[6]

Kita dapat memahami dengan jelas bahwa kematian bukanlah tanpa kesadaran atau tanpa keberadaan berdasarkan apa yang dijelaskan di dalam Alkitab. Pertama, Alkitab dengan sangat jelas mengajarkan bahwa kematian rohani adalah berbicara tentang kematian dalam kesalahan dan dosa-dosa dan bukanlah tanpa kesadaran atau tanpa keberadaan. Kedua, kematian tubuh tidaklah mengakibatkan kematian jiwa. Hal ini nyata dalam perkataan Kristus yang membedakan tentang kematian tubuh dan jiwa. Kristus berkata, “Jangan takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang dapat membunuh jiwa” (Matius 10:28). Ketiga, Cerita tentang orang kaya dan Lazarus dalam Lukas 16:19-31 membuktikan bahwa mereka yang telah mati bukan berada dalam keadaan tanpa kesadaran atau tanpa keberadaan. Keempat. Andaikata kematian itu berarti tidak memiliki keberadaan, maka pada waktu itu Tuhan Yesus Kristus tidak memiliki keberadaan ketika tubuh-Nya terbaring di dalam kubur selama tiga hari tiga malam. Kelima, Pernyataan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 5:8, beralih dari tubuh ini (mati) berarti untuk menetap pada Tuhan dan bukan berhenti dari keberadaan. Keenam, Penampakan Musa dan Elia di atas gunung (Matius 17:3) adalah bukti lebih lanjut bahwa kematian bukanlah tanpa keberadaan atau tanpa kesadaran. Ketujuh, Petrus mengatakan bahwa mereka yang tidak taat pada zaman Nuh sekarang berada sebagai roh-roh dalam penjara dalam keberadaan dan kesadaran (1 Petrus 3:18-20)


TEMPAT LANJUTAN ORANG SESUDAH MATI.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa kematian itu bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi kematian adalah perpisahan tubuh dengan jiwa dan roh. Kematian adalah peralihan kepada kehidupan yang lain yaitu kehidupan yang kekal. Ke mana dan di mana? Ada tempat-tempat yang tersedia sebagai tempat lanjutan orang-orang untuk hidup sesudah mati, baik orang yang percaya maupun yang tidak percaya. Tempat-tempat tersebut diuraikan berikut ini berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.

A. LANGIT (HEAVEN)[7]

Alkitab mengajarkan baha langit ini terdiri dari tiga langit (2 Korintus 12:2). Kata langit dalam bahasa Inggris Heaven, diterjemahkan dari bahasa Yunani “ouranos,” tepatnya diterjemahkan “langit.” Dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan “surga”. Ketiga langit tersebut adalah sebagai berikut,

Pertama, Langit Atmosfir di mana burung-burung beterbangan (Yeremia 4:25; Matius 6:26; Matius 8:20). Kedua, Langit tempat bintang-bintang (Kejadian 22:17; Matius 24:29). Ketiga, Langit yang ketiga adalah surga tempat kediaman Allah (1 Raja-raja 8:27.30). Inilah langit ketiga (third Heaven) yang disaksikan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 12:2 atau Firdaus (Paradise) dalam 2 Korintus 12:4. Apakah manusia pada waktu mati langsung pergi ke surga, tidak ada pernyataan langsung tentang hal itu. Tetapi ada beberapa fakta yang disebut dalam Alkitab yang menyatakan, bahwa manusia (yang percaya) langsung pergi ke surga pada waktu mati yaitu melalui apa yang disampaikan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 5:8 tentang beralih dari tubuh ini supaya berada bersama-sama dengan Tuhan; dan penglihatan Yohanes akan jiwa-jiwa mereka yang dibunuh karena Firman Allah berada di takhta Allah dan jumlah yang sangat besar manusia keluar dari masa sengsara besar, berada di tahta Allah (Wahyu 6:9-10; Wahyu 7:9-11, 14); Stefanus sebelum ia mati dirajam dengan batu, melihat langit terbuka dan Tuhan Yesus Kristus berdiri di sebelah kanan Allah (Kisah 7:55-60).

B. FIRDAUS (PARADISE).

Kata Firdaus dalam bahasa Inggris Paradise, diterjemahkan dari kata dalam bahasa Yunani “paradeisos.” Kata ini mula-mula digunakan oleh ahli sejarah Xenophon, yang melukiskan tentang taman Raja-raja dan bangsawan Persia. Kata ini berasal dari kata dalam bahasa Persia (Old Pers., Pairidaeza, sama dengan bahasa Yunani, Peri – Around – keliling, Teichos – a wall – tembok). Kata ini digunakan dalam Alkitab terjemahan Septuaginta sebagai, Taman Raja-raja (Nehemia 2:8; Penghotbah 2:5; Kidung Agung 4:13); Taman Eden (Kejadian 2:8); Taman ditepi sungai (Bilangan 24:6); Taman Dewa-dewa (Yeremia 29:5); Taman Eden, taman Allah (Yehezkiel 31:8-9).[8]

Dalam Perjanjian Baru kata Firdaus ini hanya disebut tiga kali. Yang pertama terdapat dalam Lukas 23:43 di mana Tuhan Yesus Kristus memberitahukan kepada seorang penjahat, bahwa hari ini juga ia bersama-sama dengan Tuhan Yesus Kristus di dalam Firdaus. Kedua melalui pernyataan Paulus dalam 2 Korintus 12:4 tentang seseorang yang terangkat ke Firdaus. Yang ketiga dalam Wahyu 2:7, di taman Firdaus Allah.[9]

Paulus dalam 2 Korintus 12:2-4 melukiskan Firdaus itu sebagai “langit yang ketiga.” Langit ketiga adalah tempat kediaman Allah (lihat tentang “langit”). Firdaus bukanlah bagian dari alam maut, karena alam maut dalam kitab Wahyu dikatakan akan dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu 20:14). Kalau Firdaus adalah bagian dari alam maut berarti Firdaus itu akan dicampakkan ke dalam lautan api.

Pernyataan dalam Efesus 4:8-9 tentang Tuhan Yesus Kristus turun ke bagian bumi yang paling bawah, yang dipercayai sebagai turun ke dalam alam maut (tempat penghukuman sementara bagi orang-orang yang tidak percaya – lihat Sheol/Hades), di mana orang kaya berada sebagaimana diceritakan dalam Lukas 16:22-24, dan disebut penjara dalam 1 Petrus 3:19-20. Tujuan Ia turun ke sana adalah untuk memproklamasikan kuasa Injil yang menyelamatkan (Roma 1:16-17), dan membawa tawanan-tawanan keluar dari sana. Tawanan-tawanan yang dimaksudkan bukan orang-orang yang sudah mati dan berada di sana, tetapi Tuhan Yesus Kristus sendiri menjadi tawanan ganti kita (Yesaya 53) dan membebaskan kita sebagai orang-orang tertawan (yaitu kita yang percaya). Orang yang percaya tidak akan merasakan tempat ini lagi karena Tuhan Yesus Kristus sudah menanggungnya bagi kita (Yohanes 4:24). Ia naik (ke luar dari sana) ke tempat tinggi menyatakan suatu kemenangan (Kisah 2:24-28) dan menjadi bukti bahwa maut sudah dikalahkan (1 Korintus 15:54-58).

C. SHEOL /HADES.

Sheol adalah kata dalam bahasa Ibrani (PL)(Ulangan 32:22; Mazmur 139:8; Yesaya 14:9; Mazmur 16:10) yang sinomim dengan kata Hades dalam bahasa Yunani (PB)(Lukas 16:23; Matius 16:18; Kisah 2:27), yang mempunyai pengertian sebagai “suatu tempat jiwa orang mati,”[10] “dunia yang suram dan tempat penahanan.”[11] Sheol diterjemahkan “neraka,” “kuburan,” dan “lubang,” sedangkan Hades diterjemahkan “neraka.” dan “kuburan.”[12]

Perkataan Sheol dipergunakan dalam Alkitab (PL) sebanyal 65 kali dan selalu menunjukkan tempat jiwa orang mati. Kata ini tidaklah tepat diterjemahkan sebagai “kuburan.” Dalam bahasa Ibrani kata untuk kuburan adalah “Qeber” dan bahasa Yunaninya “mnemeion.” Sheol tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak, sama halnya dengan Hades. Tetapi kata Qeber terdapat 27 kali dalam bentuk jamak “Qeberim,” juga bentuk jamaknya mnemeion adalah “mnemeia.” Dengan demikian Sheol atau Hades itu hanya menunjukkan satu tempat saja yaitu “tempat jiwa orang-orang mati,” sedangkan Qeber maupun mnemeion menunjukkan banyak tempat. Kuburan itu adalah milik orang-orang yang berbeda/tertentu (Bilangan 19:16; 2 Samuel 3:32; 1 Raja-raja 13:30; 2 Tawarikh 34:28; Yeremia 8:1). Sheol dan Hades tidak pernah dikatakan sebagai milik dari seseorang tertentu. Kuburan adalah untuk tubuh, sedangkan sheol atau Hades adalah untuk jiwa (roh). Qeber atau mnemeion dipergunakan untuk menunjukkan tempat di mana mayat ditempatkan (1 Raja-raja 13:22; 2 Raja-raja 13:21; Mazmur 88:6; Yeremia 26:23). Sheol atau Hades tidak pernah dipergunakan dalam hubungannya dengan tubuh, tetapi hanya dikaitkan dengan jiwa dan roh manusia.[13]

D. BOTTOMLES PIT, ABYSS (JURANG MAUT).

Kata Ibraninya “Abaddon” biasanya diterjemahkan dengan “kebinasaan,”[14] lobang (pit)[15] (Bilangan 16:33; Mazmur 30:9). Kata ini dalam Perjanjian Lama tampaknya sama artinya dengan kuburan dan Sheol,[16] dan sama artinya dengan :Abussos” dalam Perjanjian Baru (Yunani) yang diterjemahkan lubang atau jurang maut ) Lukas 8:312; Wahyu 9:1-2; 11:7; 17:8; 20:1).[17] Kitab Wahyu menyebutkan sebanyak sembilan kali tentang jurang maut (Bottomless Pit atau Abyss) ini.[18] Kata lain yang digunakan dalam bahasa Yunani adalah “Tartaro,” yang melukiskan tentang sebuah penjara di mana malaekat-malaekat yang tidak taat, roh-roh setan dan roh-roh najis ditawan sampai pada hari penghukuman terakhir (2 Petrus 2:4; Yudas 6).

Pada masa sengsara besar beberapa dari mereka akan dilepaskan, menentang Kristus dan kerajaan Allah dan menganiaya orang-orang percaya pada masa itu (Wahyu 9:1-21; 11:7; 17:8), namun akhirnya mereka dikalahkan dan dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu 19:20). Sedangkan Iblis atau Setan akan dibelenggu dalam jurang maut ini selama seribu tahun, sesudah itu dilepaskan sedikit waktu lamanya, lalu dihalau ke dalam lautan api untuk selama-lamanya (Wahyu 20:1-3).

E. GEHENNA, LAKE OF FIRE (LAUTAN API).

Gehenna, kata yang tepat diterjemahkan “neraka”[19] atau lautan api. Ini merupakan tempat yang nyata dan tempat penghukuman kekal yang dikatakan dalam Alkitab. Itu dipersiapkan untuk Iblis dan malaekat-malaekatnya (Matius 25:41). Gehena bukan sebagai tempat penghukuman sementara tetapi merupakan tempat penghukuman kekal.[20]

Gehenna adalah kata dalam bahasa Yunani yang menggambarkan kata Ibrani Ge Hinnom atau Lembah Tofet[21] (Yeremia 7:31-32). Ge Hinnom ini sama artinya dengan api neraka (Gehenna berapi)[22] (Matius 5:22; matius 5:29-30; 10:28; 23:14, 25, 33). Ge Hinnom (dalam Alkitab Terjemahan Baru bahasa Indonesia “Lembah Ben Hinom”) adalah sebuah lembah yang dalam dan sempit di sebelah selatan Yerusalem, di mana sesudah permulaan penyembahan terhadap dewa api oleh Ahaz, orang-orang Yahudi menyembah berhala dan mengorbankan anak-anak mereka bagi dewa Molokh (Yeremia 7:31-32; Yosua 15:8; 18:16; 1 Raja-raja 11:7; 2 Raja-raja 16:3-4; 2 Tawarikh 28:3; 33:6). Pada zaman Yosia, tempat ini dimusnahkan dan diubah menjadi tempat pembuangan kotoran dan penghukuman, di mana mayat-mayat para penjahat dan bangkai-bangkai binatang dibinasakan.

Jadi Lembah Ben Hinom atau Tofet dengan apinya yang tidak pernah padam itu dipakai sebagai simbol yang menunjukkan “api neraka,” kematian kedua.

TAMBAHAN TEMPAT SEMENTARA ORANG-ORANG SESUDAH MATI MENURUT AJARAN ROMA KATOLIK.[23]

Di atas telah diuraikan tentang lima tempat sementara serta tempat lanjutan kehidupan sesudah mati yang disebutkan dalam Alkitab. Berikut ini ada tiga tempat yang ganjil sebagai tempat sementara orang mati menurut pengajaran Roma Katolik.

A. LIMBUS PATRUM.

Kata limbo atau limbus, artinya tebing atau tepi (edge). Ini melukiskan sebuah tempat pada tepi atau batas neraka. Roma Katolik mengajarkan bahwa bapa-bapa leluhur pergi ke Limbus Patrum ini menunggu kedatangan Messias untuk menyelamatkan mereka. Menurut ajaran ini Kristus menyelamatkan mereka dari tempat itu dan membawa mereka ke sorga.

B. LIMBUS INFANTUM.

Limbus Infantum ini menurut ajaran Roma Katolik adalah sebuah tempat untuk semua bayi yang mati sebelum dibaptis. Karena Roma Katolik mengajarkan pentingnya baptisan untuk keselamatan, bayi-bayi yang tidak dibaptis tidak dapat diselamatkan. Dosa asal (bawaan) menutupi bayi-bayi untuk selama-lamanya dari surga dan dari penglihatan Allah, tetapi karena mereka belum mempunyai dosa secara pribadi yang menyebabkan mereka menderita maka mereka dibebaskan dari api neraka.

C. PURGATORY.

Purgatory adalah sebutan bagi tempat “pembersihan” atau “penyucian”. Itu merupakan dugaan sebuah tempat di mana jiwa-jiwa menyesal, melalui pelayanan penderitaan, penyucian dari dosa-dosa yang dapat diampuni dan tempat penghukuman sementara bagi pengampunan dosa-dosa yang berat sebelum mereka dapat diakui pada hadirat Tuhan. Pengajaran tentang Purgatory adalah keharusan bagi penganut ajaran Roma Katolik. Mereka percaya bahwa pengampunan Allah melalui pekerjaan Kristus hanya menutupi hukuman kematian kekal. Orang-orang Kristen harus bertanggungjawab terhadap semua dosa yang diperbuat sesudah dibaptiskan. Pertanggungjawaban dapat dilakukan melalui penebusan dosa dan perbuatan baik dalam hidup ini, dan jika tidak lengkap dalam hidup ini, hal itu harus diselesaikan melalui penderitaan dalam api purgatory sesudah mati. Penderitaan dalam purgatory boleh dikurangi atau diperpendek melalui doa-doa orang-orang kudus, dan terutama oleh pengorbanan misa. Misa adalah pengorbanan pendamaian untuk jaminan pengampunan dosa dan diterapkan menurut maksud Paus. Oleh karena itu Misa dapat dikata adalah untuk kebaikan jiwa dalam purgatory.

Apakah dasar pengajaran purgatory? Pengajaran purgatory sesungguhnya bukanlah berasal dari Alkitab. Ajaran purgatory didasarkan pada tradisi yang disejajarkan dengan Alkitab. Pengajaran purgatory oleh Roma Katolik ini didasarkan pada tradisi bangsa Yahudi yang mempersembahkan korban dan doa-doa bagi orang-orang mati supaya bangkit dari kematian (band. 2 Makabe 12:43).

Roma Katolik berpandangan bahwa Alkitab mendukung ajaran tentang purgatory dengan mengutip Matius 5:25-26 dan 1 Korintus 3:12-15, di mana dalam ayat-ayat tersebut dikatakan keluar dari “penjara” dan dari “api.” Namun perlu diperhatikan bahwa ayat-ayat ini tidak berhubungan dengan api penyucian untuk keselamatan. 1 Korintus 3:12-15 merupakan pengujian dan pemberian upah bagi setiap orang percaya kepada Kristus sesuai dengan perbuatan masing-masing, dan bukan sebagai pembebasan dari penghukuman sementara. Ini terjadi bukan di purgatory tetapi di angkasa pada Kursi Pengadilan Kristus (Bema).

Pengajaran purgatory bukan hanya tidak diajarkan Alkitab, tetapi itu sama sekali bertentangan dengan pengajaran Alkitab. Satu-satunya penyucian manusia dari dosa adalah melalui kematian Yesus di kayu salib (Ibrani 1:3; 10:10-14). Paulus menjelaskan dalam surat-suratnya bahwa keselamatan tak dapat diperoleh dengan usaha apapun (Roma 3:24; 4:1-8; 5:1, 19; 8:1, 33, 34; 11:6; 1 Korintus 5:8; Galatia 3:21; Efesus 2:8-9). Kalau benar pengajaran purgatory bahwa pengampunan dosa dapat dibayar/ditebus dengan dan melalui persembahan/uang maka orang kayalah yang mempunyai banyak kesempatan untuk pergi ke surga daripada orang-orang miskin. Penulis Lukas menceritakan tentang kisah orang kaya dan Lazarus dan perbedaan tempat lanjutan orang sesudah mati. Lazarus di Firdaus sedangkan orang kaya di alam maut. Orang kaya dalam kisah tersebut tidak diberikan kesempatan apapun untuk keluar dari sana, sebaliknya ia berdoa bagi orang-orang/saudara-saudaranya yang masih hidup agar tidak akan pergi ke tempat tersebut.

Petrus mengatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun baik itu uang, perak dan emas maupun usaha yang dapat membebaskan manusia dari penghukuman selain dari penebusan oleh darah Kristus (1 Petrus 1:18; 19). Kita yang sudah menerima penebusan oleh darah Kristus, sudah dibebaskan dari penghukuman maut (Roma 8:1) dan sudah berpindah dari maut kepada hidup (Yohanes 5:24). Hal itu terjadi sekali untuk selama-lamanya sebagaimana diajarkan Alkitab (Ibrani 10:10-14).


PENUTUP, KRISTUS DAN KEMATIAN.

Kristus Yesus datang ke dalam dunia ini dilahirkan sebagai seorang manusia (Filipi 2:1-11). Sebagai manusia Ia mengalami kematian, karena kematian sudah menjadi bagian dari hidup manusia sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Manusia diciptakan Allah untuk hidup tetapi dosa merusak hidup ini. Kematian adalah merupakan akibat daripada dosa (Roma 6:23a).

Kristus sebagai manusia mengalami kematian ini, tetapi harus diingat bahwa Kristus mengalami kematian bukanlah karena Ia berdosa. Tidak, Kristus mati bukan karena Ia berdosa, tetapi kematian-Nya adalah untuk menebus dan mengangkut dosa umat manusia (Yohanes 1:29, 36; 1 Korintus 15:3; 1 Timotius 2:6; 1 Petrus 1:18). Ia mati untuk menggantikan dan menyelamatkan kita orang berdosa (Ibrani 2:9-10; Titus 2:13-14). Ia mati untuk mendamaikan manusia dengan Allah dan antara manusia dengan manusia itu sendiri dan antara manusia dengan alam ciptaan-Nya (Kolose 1:22; Roma 3:25; Efesus 2:13-17). Kematian Kristus adalah untuk menanggung maut umat manusia dan membenarkan manusia di hadapan Allah (Roma 6:23b; Yohanes 3:36; 5:24; 1 Petrus 3:18; 2 Korintus 5:21). Kematian Kristus adalah untuk melucuti kekuasaan Setan dan mengalahkan maut (Yohanes 12:31; Kolose 1:13; 2:15; 1 Korintus 15:25-28; 15:55-57).

Kematian sudah dikalahkan. Kematian bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi merupakan bagian dari hidup ini. Kematian merupakan perpisahan antara tubuh dengan jiwa dan roh. Kematian merupakan peralihan dari kehidupan yang fana kepada kehidupan yang kekal. Ibrani 10:27 membuktikan bahwa kematian bukanlah akhir kehidupan, tetapi di balik kematian masih ada kehidupan yang lain. Juga kisah tentang orang kaya dan Lazarus yang diceritakan oleh penulis Lukas (Lukas 16:19-31) menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir daripada kehidupan ini. Kristus telah mengalahkan maut untuk kita.


Catatan Akhir:
 
[1] Charles F Baker, 1972, Eschatology, 79, A Dispensational Theology, Grace Bible Collage Publications, Grand Rapids

[2] Kebahagiaan cara memperolehnya, hal. 117-118, Watch Tower Bible And Tract Society of Pensyilvania; Karena Allah itu benar adanya, hal 99-100, Ed. 2, 1960, International Bible Student Association Brookyn, Ny. USA.

[3] Karena Allah itu Benar adanya, hal 102.

[4] Idem, hal 103.

[5] Kebahagiaan cara memperolehnya, hal 117.

[6] Charles F Baker, 1972, Eschatology, 79, pages 572-574, A Dispensational Theology, Grace Bible College Publications.

[7] Charles F Baker, 1972, Schatology, 79, pages 576, A Dispensational Theology, Grace Bible College Publications.

[8] E W Vine, 1981, Vol. 3; Lo – Ser, pg. 158, Vine’s Expository Dictionary Of Old and New Testament Words, Fleming H. Reveel Company Old Tapan, New Jersey.

[9] Charles F Baker, 1972, page 578.

[10] Dr R Soedarmo, 1984, Kamus Istilah Theologia, hal 6, BPK Gunung Mulia, Jakarta.

[11] Rencana Keselamatan dalam Zaman-zaman, Hal. 77, Penerbit Gandum Mas, Malang.

[12] Charles F Baker, 1972, pages 578-579.

[13] Dr Spiros Zodhiates, Kemanakah Roh orang mati pergi? Hal. 1-2, Berita Mimbar, Majalah bulanan, Ed. Khusus Juni-Juli Tahun ke 7 No 79/80.

[14] Rencana Keselamatan dalam Zaman-zaman, hal 78, Gandum Mas.

[15] Charles F Baker, 1972, page 580.

[16] Idem.

[17] Rencana Keselamatan dalam Zaman-zaman, hal 78.

[18] Charles F Baker, page 580.

[19] DR. R Soedarmo, 1984, hal. 6.

[20] Charles F Baker, 1972, pages 580-581.

[21] W E Vine, 1981, page 212, Vol. 2: E – Li.

[22] Rencana Keselamatan dalam Zaman-zaman, hal 79.

[23] Charles F Baker, 1972, pages 581-582.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar