Kamis, 23 Desember 2010

KEALLAHAN (KEPERCAYAAN AKAN ADANYA ALLAH)

Jerry H M Sumanti

A.  PENDAHULUAN

      Semua orang dengan berbagai macam ragam kebudayaan dan aliran keagamaan/kepercayaan  di seluruh penjuru dunia ini mempercayai bahwa di atas semua makhluk dan alam ini ada satu oknum yang berkuasa dan mahakuasa, sebagai yang menciptakan alam dan segala isinya yang disapa dengan berbagai ragam sebutan dan nama. Bagaimana dengan kepercayaan Kristen? Apa yang menjadi dasar kepercayaan Kristen tentang adanya Allah? Alkitab adalah Standar Iman/Pedoman Hidup Kristen. Apa yang kita lakukan dan imani dalam kehidupan percaya kita, haruslah berdasarkan pada ajaran Alkitab secara benar dan tepat.
      Alkitab adalah Firman Allah dan salah satu hal pokok yang diajarkan Alkitab adalah tentang Allah yang mengilhamkan dan mewahyukan Alkitab itu sendiri. Jadi Alkitablah yang menjadi landasan kepercayaan Kristen tentang keberadaan dan kebenaran adanya Allah.

B.   KEBENARAN TENTANG ADANYA ALLAH

      Manusia pada umumnya meyakini akan kebenaran bahwa Allah itu ada. Keyakinan itu nyata melalui kepercayaan manusia bahwa pasti ada oknum yang mengatasi dan menguasai alam ini. Alam ini diciptakan, sebagai ciptaan pastilah ada penciptanya, tidak akan ada alam ini kalau tidak ada yang mengadakannya. Perbuatan yang sangat ajaib yang kita lihat dalam penciptaan tentulah mempunyai perencana yang mahabesar.
Keyakinan akan adanya Allah tersebut diwujud nyatakan dalam berbagai-bagai cara, misalnya ada yang mengkramatkan tempat-tempat tertentu yang dipercayai didiami oleh roh, ilah, dewa dan sebagainya yang diyakini sebagai yang berkuasa dan yang menciptakan dan mengatur alam ini, dan di tempat-tempat tersebut dijadikan sebagai tempat pemujaan, pemberian korban-korban persembahan berupa korban benda maupun nyawa manusia. Ada pula yang mengekspresikan/ menyerupakan Allah itu dalam bentuk patung-patung kemudian disembah sebagai yang berkuasa. Ada pula yang mengkramatkan hari-hari atau bulan-bulan tertentu yang diyakini bahwa pada waktu-waktu tersebut yang berkuasa memberi berkat atau penghukuman dan sebagainya. Dalam pandangan manusiawi apa yang diekspresikan tersebut adalah wujud usaha manusia untuk memuja Allah, ilah atau apa yang disebut berkuasa dan semua itu dipandang benar, tetapi dalam pandangan Allah semua usaha tersebut adalah sia-sia belaka bahkan ada yang menjadi kekejian bagi-Nya. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa semua usaha manusia dalam bentuk apapun untuk mewujudkan keberadaan dan rupa Allah tersebut adalah sia-sia, semua usaha manusia rusak dan tidak dapat memperkenankan Allah, bahkan tidak ada seorangpun yang mencari Allah, seorangpun tidak (Roma 3:10-12) Perhatikan contoh-contoh kasus dalam Alkitab: Kasus Orang Israel di bawah pimpinan Harun menyembah Allah dalam wujud patung anak lembuh emas (Keluaran 32); ilah-ilah sembahan orang Amori, Moab, Het, Kanaan; Allah menantang berhala-berhala (Yesaya 41:21-29); Kejatuhan Salomo karena terpaut kepada penyembahan berhala bersama istri-istrinya (1Raja-raja 11:1-13); Kesaksian Daniel menghadapi tantangan Nebukadnesar dan Darius; Kasus di Atena (Kisah Para Rarul 17); Kasus Demetrius di Efesus (Kisah Para Rasul 19)dan masih banyak kasus yang lain. Kasus-kasus penyembahan akan adanya Allah dalam kepercayaan-kepercayaan suku, misalnya: Kepercayaan Parmalin di Tanah Batak; Kaharingan di Kalimantan (Dayak); Panuntung/Ama Toa di Suku Bugis/Makasar; Alu Todolo/Alu Tomate di Tanah Toraja; Alifuru di Maluku; Opo-opo/Malesung di Minahasa; Aliran-aliran Kebatinan di Jawa; Pemujaan Alam di Banten/Badui, dan sebagainya. Dalam pandangan/ajaran Islam orang menyembah Allah harus berkiblat tepat ke Mekkah di mana terdapat Bait Allah. Allah itu transenden, jauh dan tidak mungkin menjadi serupa dengan manusia. Dalam pandangan Hindu, Allah itu dilukiskan tiga dewa yang masing-masing punya kekuasaan pada alam ini yakni Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa Perusak. Bahkan dalam kepercayaan Hindu, Buddha, Shinto, Kong Fu Tju, Tao orang berinkarnasi sampai dapat menjadi Dewa/Dewi yang berkuasa dalam alam. Demikian contoh-contoh kasus yang ada baik yang dijelaskan dalam Alkitab maupun yang diluar Alkitab.
Bagaimana dengan keyakinan kita orang Kristen (Percaya) akan adanya Allah? Kita orang percaya meyakini kebenaran Keberadaan Allah itu ada sebagaimana diajarkan Alkitab. Alkitab adalah satu-satunya kitab yang mengajarkan yang benar tentang keberadaan Allah.

C.  KEBERADAAN ALLAH

      Seperti telah dijelaskan di atas bahwa banyak orang berusaha untuk mengekspresikan bagaimana bentuk dan rupa keberadaan Allah, tetapi semuanya itu hanyanya imajinasi dan keinginan manusia belaka yang kebanyakan pada akhirnya mengantar manusia itu sendiri kepada penyembahan yang tidak benar akan kebenaran keberadaan Allah itu sendiri. Alkitab adalah satu-satunya kitab yang mengajarkan dengan benar akan keberadaan Allah. Keberadaan Allah diuraikan dengan jelas dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Untuk itu marilah kita melihat apa yang diajarkan Alkitab.

Allah adalah Roh adanya (Yohanes 4:24).
 Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah Roh adanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Allah itu tak dapat dilihat dengan mata jasmani, dan manusia tak dapat bahkan Allah sendiri sebagaimana dijelaskan dalam Alkitab, melarang manusia untuk menyerupakan Allah dengan bentuk apapun. Hal itu sudah ditegaskan dalam Perjanjian Lama khususnya dalam Torat yang diberikan kepada Musa, dan Perjanjian Baru meneguhkan-Nya. Hanya Allah sendirilah yang dapat menyatakan diri-Nya kepada manusia dalam bentuk yang kelihatan sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya dan melalui karya ciptaan-Nya.

Ada  tiga cara dalam mana Allah menyatakan keberadaan-Nya kepada manusia yakni:
Pertama, Melalui alam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam alam ciptaan-Nya. Dalam Perjanjian Lama kita menemukan banyak contoh di mana Allah menggunakan alam dan karya cipta-Nya untuk menyatakan diri-Nya kepada manusia, misalnya, Ketika Allah memanggil Musa, Allah menampakkan diri-Nya melalui semak belukar yang menyala, tetapi tidak terbakar, Kepada bangsa Israel Allah menyatakan diri-Nya melalui tiang awan dan tiang api sebagai tanda penyertaan-Nya kepada Umat-Nya. Allah menurunkan api dari langit untuk menghukum orang-orang yang tidak mau bertobat (misalnya peristiwa Sodom dan Gomora) sebagai wujud kekuasaan Allah, dan lain sebagainya.
Kedua, Dalam Perjanjian Lama Allah menyatakan diri-Nya dalam rupa Malaekat, yang disebut Malaekat Tuhan dan disembah sebagai/disebut Tuhan oleh para leluhur.    Istilah Teologinya adalah Teofani yakni Penyataan diri Allah dalam rupa Malaekat. Juga disebut sebagai Allah Yehovah (Yahweh, Yosua, Yehosua) yang artinya Tuhan Juruselamat. Dalam Perjanjian Baru Allah menyatakan diri dalam rupa manusia melalui pribadi (oknum) Yesus Kristus, Allah datang ke dalam dunia dalam tubuh dan darah. Allah mengambil rupa seorang manusia, Allah menjadi manusia (dijelaskan dalam Yohanes 1:1-3, 14; Filipi 2:1-11). Karena Allah mengasihi manusia,  Dia  datang  mengambil  rupa  manusia untuk menebus/ menanggung dosa dan membebaskan/ menyelamatkan manusia dari hukuman (Yohanes 3:16).  
Ketiga, Melalui Alkitab Firman-Nya, dalamnya semua perbuatan tangan-Nya dan kehendak-Nya, dan apa yang akan terjadi kemudian menurut rencana-Nya dinyatakan secara tertulis melalui para hamba-Nya (Mazmur 8:1-10, Yohanes 1:1-3, 14, 18: Kolose 1:15; 2 Timotius 3:15-17;  Ibrani 1:3). Alkitab adalah Firman Tuhan (bagian dari penyataan Allah secara tertulis) diberikan untuk menjadi pedoman bagi kehidupan percaya.

Allah adalah Allah yang berpribadi.
      Ada banyak nama sebutan yang diberikan untuk menunjuk keperibadian-Nya Allah. Nama-nama sebutan pribadi dipergunakan untuk menunjuk langsung kepada Allah (Keluaran 3:14, Matius 11:25). Dalam Mazmur pasal 23 misalnya kita akan menemukan nama-nama sebutan bagi Allah dinyatakan secara tak langsung dalam hubungan dengan pemeliharaan-Nya bagi umat-Nya,
(1) Tuhan adalah Gembalaku (Yehovah Roi atau Yehovah Raah, ayat 1);
(2) Tuhan akan menyediakan (Yehovah Jireh, Takkan kekurangan aku, ayat 2, Kejadian 22:14);
(3) Tuhan Damai kita (Yehovah Shalom, Ia membimbing aku ke air yang tenang, ayat 2, Hakim-hakim 6:24);
(4) Tuhan Penyembuh (Yehovah Rhope, atau Yehovah Rhapa, Ia menyegarkan jiwaku, ayat 3, Keluaran 15:26);
(5) Tuhan Kebenaran kita (Yehovah Tsidkenu, Ia menuntun aku di jalan yang benar, ayat 3, Yeremia 23:6);
(6) Tuhan Panji-panjiku (Yehovah Nisi, Aku tidak takut bahaya, ayat 4, Keluaran 17:15);
(7) Tuhan Hadir di Situ (Yehovah Shammah, Engkau Besertaku, ayat 4, Yehezkiel 48:35);
(8) Tuhan yang Menguduskan (Yehovah Mekaddishkhem, Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, ayat 5, Keluaran 31:13).

Sebagai satu pribadi, Allah mempunyai pengetahuan (Yesaya 55:9-10), Dialah Sumber Pengetahuan dan tak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya, karena Dialah Allah yang Mahatahu. Ia mempunyai suasana hati atau perasaan (Kejadian 6:6),  sehingga Ia dapat murka,  sedih,  dan  mengasihi.   Ia mempunyai kehendak (Yosua 3:10) sehingga segala sesuatu harus berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.

Allah adalah Esa adanya.
      Alkitab mengajarkan dengan sangat jelas bahwa hanya ada satu Allah (Ulangan 6:4-5; 1 Timotius 2:5) Pengajaran yang mengatakan  bahwa  ada  banyak  Allah/ilah, adalah sangat bertentangan  dengan  pikiran  yang waras. Kepercayaan Kristen adalah berdasarkan ajaran Alkitab bahwa Allah itu Esa adanya adalah jelas.    Tuduhan bahwa kekristenan menyembah tiga Allah adalah sangat tidak berdasar. Keyakinan Kristen bahwa Allah yang Esa itu adalah Allah Tritunggal bukan berarti menyembah tiga Allah. Ketritunggalan Allah dijelaskan berikut ini.

Allah yang Esa itu adalah Allah Tritunggal.
Alkitab mengajarkan dengan jelas bahwa hanya ada satu Allah, tetapi juga bahwa Allah yang Esa itu beroknum tiga. Tiga oknum (pribadi) dalam satu keberadaan Allah yaitu: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tritunggal, Tiga Oknum (pribadi) dalam Satu Keberadaan Allah. Memang ini adalah satu rahasia bagi pikiran manusia. Meskipun rahasia itu tak dapat atau sulit dimengerti, tetapi kebenaran tersebut dapat dipercaya karena demikianlah diajarkan Alkitab Firman Allah, dan bahkan melalui pernyataan tersebut nyata kebenaran Allah dalam Kemahakuasan dan Kemahaberadaan-Nya Allah. Allah kita adalah Allah yang Mahakuasa dan Ajaib, tak ada yang mustahil bagi-Nya.
Perkataan Tritunggal atau Trinitas secara hurufiah memang tidak terdapat di dalam Alkitab, tetapi kebenaran rumusannya jelas terdapat dan diajarkan di dalam Alkitab, misalnya pada waktu pembaptisan Tuhan Yesus ketiga oknum disebut (Matius 3:16-17), dan pada waktu perintah menginjil disampaikan kepada para rasul, ketiga oknum juga disebut dengan jelas (Matius 28:19). Juga dalam pemberian berkat ( 2 Korintus 13:13). Dalam Roma 1:7 Bapa disebut Allah, sedangkan dalam Ibrani 1:8 Anak disebut Allah, dan dalam Kisah Para Rasul 5:3-4 Roh Kudus disebut Allah. Ketiga-Nya disapa Allah, tetapi bukan tiga Allah melainkan satu Allah adanya. Tiga oknum (pribadi) dalam satu esensi (keberadaan) Allah yang Esa.

D.  SIFAT-SIFAT ALLAH      

 Adalah sangat sulit untuk menerangkan tentang wujud Allah itu. Salah satu jalan yang terbaik ialah dengan menguraikan beberapa sifat atau atribut-Nya.
     
Allah itu Mahahadir (Omnipresent):
Ini berarti bahwa Allah itu berada di mana-mana pada waktu yang bersamaan (Yeremia 23:24). Ia adalah Allah yang transenden dan juga Imanen artinya Allah ada (jauh) di sana tetapi juga Allah berada (dekat) di sini. Dalam hubungan dengan kekekalan-Nya Allah, Kemahahadiran Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Allah bukan berada dalam ruang dan waktu tetapi sebaliknya ruang dan waktu berada di dalam Allah, Allah memenuhi ruang dan waktu.
     
Allah itu Mahatahu (Omniscience):
Allah mengetahui segala sesuatu. Ia mengetahui tiap-tiap pikiran dan perbuatan manusia (Amsal 15:3). Ia mengetahui semua perkara yang terjadi dalam alam, sampai kepada matinya seekor burung pipit sekalipun dan jumlah rambut di kepala kita diketahui-Nya (Matius 10:29-30).

Allah itu Mahakuasa (Omnipotent):
Ia mempunyai segala kekuasaan. Ia menjadikan semesta  alam dan mengaturnya sesuai dengan rencana  dan dalam kehendak dan kekuasaan-Nya. Tidak ada sesuatu apapun yang tidak dapat diperbuat-Nya (Matius 19:26).

Allah itu Kekal:
Keberadaan Allah adalah kekal adanya. Sebelum segala sesuatu ada/diciptakan, Allah ada. Ia-lah yang mengadakan/menciptakan segala sesuatu. Ia tidak mempunyai permulaan dan Ia tidak berkesudahan (Mazmur 90:2). Dalam kaitan dengan kemahahadiran, kemahatahuan dan kemahakuasaan, Allah tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu ada dalam kekekalan-Nya.

Allah itu tidak berubah:
(Maleakhi 3:6). Allah adalah tetap dalam keberadaan-Nya. Allah ada sebagaimana Allah ada. Ketika Allah memanggil Musa untuk diutus membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, Musa bertanya kepada Allah apa yang harus ia katakan kepada bangsa Israel. Allah menjawab Musa dan mengatakan “Aku adalah” , atau “ Akulah Aku”, atau “Aku adalah Aku”. Dalam Perjanjian Baru hal yang sama dikatakan Yesus “Aku adalah”, “Aku dan Bapa satu adanya”. Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru telah dijelaskan bahwa Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia dalam berbagai cara, tetapi hal tersebut tidak mengubah akan keberadaan-Nya Allah, karena Allah adalah kekal ada-Nya yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia ada sebagaimana Ia ada.

Allah itu suci adanya:
Ia suci semata-mata dan tidak berdosa. Allah mengasihi manusia yang berdosa tetapi Ia membenci dosa dan mencintai kebenaran (Amsal 15:9,26). Karena Ia mengasihi manusia yang berdosa sehingga berulangkali dalam berbagai cara Allah menawarkan dan menyediakan jalan agar manusia kembali ke dalam kesucian Allah. Namun banyak orang tidak mengindahkan-Nya sehingga Ia menjauhkan diri dari orang-orang berdosa,yang tidak mau bertobat dan Ialah Allah yang harus menghukum dosa (Yesaya 59:1,2). Allah membenci dan menghukum orang-orang yang tidak mau bertobat sebagai bukti bahwa Allah adalah Adil.

Allah itu adil:
Segala perbuatan-Nya benar dan jujur. Ia adalah Sumber segala kebenaran, karena Ia sendiri adalah Kebenaran. Allah di dalam pribadi Yesus Kristus mengatakan, “Akulah … Kebenaran … (Yohanes 14:6).” Ia menggenapi segala janji-Nya (Mazmur 119:137). Keadilan Allah nyata dalam mana Ia menyelamatkan orang berdosa yang bertobat dan menghukum mereka yang tidak mau bertobat.  Ia berbuat demikian karena Ia adalah Allah yang adil.

Allah kasih adanya: 
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa walaupun Allah membenci dosa, namun Ia mengasihi orang-orang yang berdosa (Yohanes 3:16). Ia mau supaya semua orang yang berdosa bertobat dan diselamatklan (2 Petrus 3:9). Dalam keseluruhan Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, berulang kali Allah menyatakan kasih-Nya untuk menyelamatkan manusia, tetapi manusia tidak mengindahkan kasih-Nya sehingga begitu banyak yang harus mengalami/menjalani penghukuman Allah.

E.   PENUTUP

      Pembahasan tentang Keallahan tersebut di atas adalah dalam keterbatas pemikiran dan kemampuan pengetahuan manusia. Karena siapakah yang dapat mengerti dan memahami akan kedalaman pengetahuan Allah (Mazmur 139, Roma 11:33-36)?  Bukan berarti kita tidak perlu mempelajari dan mengetahui tentang Allah. Justru sebaliknya sampai di mana pemahaman dan pengetahuan kita tentang Allah. Adakah kita benar-benar meyakini akan keberadaan Allah dan mewujudnyatakan dalam kehidupan kita sebagai orang yang percaya dan meyakini bahwa Allah itu ada?  Allah yang benar adalah Allah yang diajarkan dalam Alkitab, yakni Allah itu ada sebagaimana Ia ada. Ia adalah Allah yang Esa yang Tritunggal. Keesaan Allah dalam Tritunggal dan Ketritunggalan Allah dalam keesaan yakni Bapa, Anak (Yesus Kristus), dan Roh Kudus. Ketiganya adalah esa dalam keberadaan dan Keesaan dalam tiga pribadi (oknum) Ialah (Elohim) yang menciptakan langit dan bumi dan segala isinya (Kejadian 1:1). Kita meyakini keberadaan Allah itu sebagaimana diajarkan Alkitab. Keberadaan Allah hanya dapat dimengerti dan diyakini oleh akal yang didasarkan pada iman percaya.
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 1:1,3,6).”
Orang yang mengatakan dan mengajarkan bahwa Allah itu tidak ada adalah orang bodoh. “Orang bebal (bodoh) berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah!” Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik (Mazmur 53:2).”      
Demikian pula  Allah  tidak berkenan  kepada orang-orang yang menyembah ilah-ilah lain, atau menyembah Allah lebih dari satu dan yang menyerupakan Allah dengan berhala-berhala (Keluaran 20:1-3; Ulangan 6:4-5; 1 Korintus  8:1-13).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar