Rabu, 29 Februari 2012

DISPENSASI KEINSYAFAN (PERJALANAN KEHIDUPAN ANAK-ANAK ADAM)

Jerry H M Sumanti, STh




Dalam tulisan sebelumnya telah dijelaskan tentang dua anak pertama Adam dan Hawa yang lahir setelah mereka diusir keluar dari Taman Eden karena tidak mengikuti perintah dan larangan Tuhan. Manusia jatuh dalam dosa, manusia di hokum karena dosa. Karena Adam dan Hawa telah bedosa, sehingga anak-anak merekapun terpolusi dengan dosa. Manusia berjalan dengan hati nurani yang telah tercemar oleh dosa. Manusia berjalan hati nurani dalam persimpangan jalan memilik yang baik atau yang jahat, mengikuti jalan Tuhan atau keinginan hati nurani sendiri. Contoh sudah dijelaskan di atas yakni Kain memiliki yang jahat, sedangkan Habel mengikuti jalan iman. Kain berjalan di luar iman dan menjadi pembunuh dan melahirkan keturunan-keturunan yang tidak mengindahkan perintah Tuhan. Habel sebagai seorang beriman menjadi korban kejahatan Kain. Setelah Habel mati tinggallah Kain seorang diri dihukum Tuhan dan menjadi pengembara yang dikejar-kejar dosa, tidak tentram hidupnya. Pertanyaan sering dilontarkan orang bahwa bagaimanakah Kain bisa berketurunan, karena selain Adam dan Hawa, ia hanya seorang diri saja? Siapakah yang menjadi pasangan hidupnya? Setelah Kain dan Habel lahir bukan berarti Adam dan Hawa telah berhenti berketurunan. Kain dan Habel disebut hanya sebagai contoh dua pribadi yang memiliki hati nurani yang berbeda, dan menempuh jalan yang berbeda yang membuktikan bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, sampai pada hari ini tidak ada dua pribadi yang hati nuraninya persis sama. Setelah Kain dan Habel, Adam dan Hawa masih mempunyai banyak keturunan (baca penjelasannya di dalam Kejadian pasal 4 - 5).


A. Keturunan Kain.

Setelah Habel mati akibat kejahatan Kain, Kain dihukum Tuhan. Ia menjadi seorang pelarian dan pengembaran. Ia dikejar-kejar oleh dosa. Karena ketakutan hal yang sama yang ia lakukan terhadap adiknya terjadi di dalam kehidupannya, maka ia memohon belas kasihan Tuhan untuk melindunginya. Permohonannya dikabulkan oleh Tuhan. Ia diberi suatu tanda di dahinya agar tidak dibunuh oleh orang lain (Kejadian 4:13-16). Siapakah yang akan membunuh Kain? Bukankah ia tinggal seorang diri sehingga siapakah yang menjadi pasangan hidup Kain dan berkembang biak? Telah dikatakan di atas bahwa setelah Habel mati bukan berarti Kain tinggal seorang diri. Kain dan Habel adalah contoh dua pribadi yang hati nuraninya berbeda dan menempuh jalan yang berbeda. Adam dan Hawa selanjutnya masih mempunyai anak-anak lagi selain Kain dan Habel. Kain mengetahuinya sehingga Kain harus meminta perlindugan Tuhan, dan Tuhan mengabulkan permintaannya. Pasangan hidup Kain tentulah salah satu dari anak-anak Adam dan Hawa, sehingga ia dapat berkembang biak. Kejadian 4:17 – 24 menjelaskan tentang keturunan Kain dan kehidupan keturunannya. Lahir dari benih dosa, berkembang membuahkan dosa. Lamekh, salah satu keturunan Kain yang mula-mula melanggar prinsip lembaga pernikahan yang ditetapkan Allah, yakni satu berpasangan satu. Lamekh berpoligami, dan kemudian iapun menjadi seorang pembunuh lebih kawakan, mewarisi sifat Kain ayahnya. Selanjutnya dalam Kejadian pasal 6 dijelaskan bahwa kejahatan di bumi semakin besar sehingga Tuhan Allah menjadi sangat sedih, dan akan membinasakan manusia.


B. Keturunan Yang menyembah Tuhan

Namun apakah semua manusia sudah menjadi terlalu jahat sehingga Allah akan membinasakan manusia? Kejadian pasal 5:1-32 menjelaskan tentang keturunan Adam dan Hawa. Nama-nama keturunan yang disebutkan dalam pasal ini adalah nama-nama keturunan yang berjalan di jalan kebaikan, dalam kehendak Tuhan, dimulai dari Set, Enos sampai kepada Nuh dan keluarganya. Setelah Habel mati, Hawa melahirkan Set sebagai ganti Habel. Hawa berkata bahwa, “Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel …” (Kejadian 4:25). Kemudian Set setelah menikah melahirkan Enos. Pada zaman Enos ini dijelaskan bahwa orang mnulai memanggil nama Tuhan. Artinya jelas bahwa pada zamannyam manusia sudah dan sedang berkembang menjadi banyak, dan masing-masing mengikuti jalan hati nurani sendiri-sendiri, sebagian tidak mengindahkan Tuhan dan sebagian mengikuti jalan Tuhan. Set, Enos dan keturuanan mereka sebagaimana dijelaskan dalam Kejadian pasal 5 adalah kelompok orang-orang yang memanggil, menyembah Tuhan. Alkitab menjelaskan bahwa orang-orang yang takut akan Tuhan akan berumur panjang (Keluaran 20:12, Ulangan 5:16, Amsal 3:1-5, Efesus 6:1-3). Umur paling panjang disebutkan adalah Metusalah yang mencapai umur 969 tahun. Selanjutnya umur manusia semakin singkat karena perubahan iklim, terutama sesudah peristiwa air bah dimana Allah menghukum dunia ini karena kehidupan manusia semakin jahat adanya. Dalam Mazmur 90:9-12, pemazmur menjelaskan tentang batasan umur-umur manusia sampai saat ini. Tetapi kehidupan manusia yang takut (percaya) akan Tuhan bukan hanya umur panjang secara jasmani di dunia ini, tetapi juga suatu kehidupan yang kekal bersama Tuhan di dalam Surga. Henokh adalah contoh orang percaya (hidup bergaul dengan Allah) yang memilik kehidupan yang kekal, ia diangkat Tuhan ke surga. Hal yang sama berlaku dari zaman ke zaman sampai pada kehidupan kita orang-orang percaya saat ini (Rasul Paulus menjelaskan bahwa suatu ketika pada akhir Dispesasi Anugerah ini – akan dibahas nanti dalam kelanjutan pelajaran ini – bahwa orang-orang percaya akan diangkat menyongsong Tuhan Yesus di angkasa kemudian di bawa ke Surga, 1 Tesalonika 4:13-18). Secara jasmani mungkin saja kita mencapai umur panjang sebagaimana dijelaskan dalam Mazmur 90 tersebut di atas atau mungkin juga tidak, tetapi yang jelas siapa saja yang percaya (menerima) kepada Tuhan Yesus yang adalah Jalan Kebenaran dan Hidup yang ditetapkan Allah, ia pasti memiliki kehidupan yang kekal di dalam Surga (Yohanes 3:16, Yohanes 14:6).


C.     Kehidupan manusia semakin bejat

Di atas telah dijelaskan mengenai keturunan Adam melalui garis keturunan Set dan Enos disebutkan sebagai keturunan yang menyembah Tuhan. Beberapa orang disebut yang ditandai dengan umur-umur yang panjang. Dua orang yang sangat menonjol disebutkan sebagai orang yang benar dan bergaul dengan Tuhan, yakni: 1) Henokh: Ia hidup bergaul dengan Allah, kemudian ia diangkat oleh Tuhan ke Surga (Kejadian 5:24); 2) Nuh: Ia orang benar dan tidak bercela, ia hidup bergaul dengan Allah dan karenanya ia mendapatkan kasih karunia di mata Tuhan (Kej. 6:8-9).

Selanjutnya semua manusia baik yang hidup tidak benar maupun yang benar, semuanya berkembang biak, sehingga manusia semakin banyak. Berbarengan dengan perkembangan manusia, kehidupan manusia semakin bejat pula. Kejadian 6:1-8 menceritakan bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata (hati nurani cenderung kepada kejahatan daripada ke kebaikan). Kejahatan yang disebutkan dalam pasal ini adalah tentang kebebasan seksual, kebebasan perkawinan (kawin mawin). Perkawinan antara anak-anak Allah dan anak-anak perempuan yang cantik-cantik. Anak-anak Allah mengambil perempuan-perempuan cantik menjadi istri sesuka hati mereka Mengenai anak-anak Allah di sini, ada dua penafsiran yakni 1) anak-anak Allah yang dimaksud adalah para Malaekat yang menyalahgunakan keberadaan mereka. Malaekat adalah makhluk roh yang diciptakan tidak kawin mawin, tetapi dengan kemampuan yang diberikan kepada mereka mereka mengubah wujud menjadi manusia dan kawin dengan anak-anak manusia dan anak-anak manusia melahirkan keturunan raksasa-raksasa dan perkasa di bumi ini. 2) anak-anak Allah yang dimaksud adalah orang-orang percaya yang disebutkan dalam Kejadian pasal 5 (orang-orang yang menyembah Tuhan, keturunan Set dan Enos) dan kawin dengan anak-anak perempuan (orang yang tidak percaya). Terlepas dari dua penafsiran ini, yang jelas kejahatan di bumi ini semakin merajarela, kehidupan manusia semakin bejat, oleh sebab itu Tuhan alan membinasakannya. Dalam Kejadian 6:5, Tuhan berkata, bahwa menyesallah Dia karena telah menjadikan manusia di bumi ini. Karena kejahatan itu sehingga Tuhan akan membinasakan manusia maupun seluruh isi dunia ini. Kejadian 6:3, Tuhan membatasi umur manusia pada waktu itu tinggal 120 Tahun saja.


D.    Panggilan Nuh dan Jalan Keselamatan

Berhubungan dengan rencana Tuhan akan membinasakan dunia ini, maka Tuhan memanggil Nuh, orang yang hidup bergaul dengan Tuhan pada zamannya untuk menyampaikan berita penghukuman dan keselamatan kepada manusia pada waktu itu. Tuhan memilih Nuh untuk menjadi pemberita Injil, memberitakan bahwa Tuhan akan mencurahkan penghukuman kepada dunia ini. Sambil memberitahukan rencana Tuhan tersebut, Nuh diperintahkan membuat Bahtera sebagai wadah bagi keselamatannya dan keluarganya serta orang-orang yang mau bertobat, agar terluput dari bencana penghukuman yang akan Tuhan laksanakan. Sambil membuat bahtera dengan dibantu oleh istri dan anak-anaknya, Nuh melaksanakan pemberitaan Injil (2 Petrus 2:5). Nuh memberitakan Injil sambil membuat bahtera, ia, istri beserta anak-anaknya. Nuh membuat Bahtera dan memberitakan Injil kurang lebih seratus tahun (Kejadian 5:32, 6:8-9, 13-14 umur Nuh 500 tahun ketika mendapat kasih karunia/dipanggil untuk membuat bahtera dan ketika air bah datang Nuh berumur 600 tahun, Kejadian 7:6). Tak seorangpun menindahkan pemberitaan Nuh mengenai rencana Tuhan untuk membinasakan dunia ini. Pastilah pemberitaan Nuh didengar sebagai kayalan saja. Mana mungkin akan ada banjir besar, dari mana datangnya air? Apa lagi Nuh membuat Bahtera jauh dari sungai/laut dan di atas bukit pula! Tak seorangpun yang menjadi percaya. Nuh tidak kecewa dan putus asa, karena ia hanya menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan, ia adalah seorang yang hidup bergaul dengan Allah, patuh pada perintah Tuhan. Ia setia sampai pada akhirnya Tuhan mendatangkan penghukuman bagi dunia ini pada zamannya. Ketika Bahtera selesai dan banjir dicurahkan menyelimuti seluruh bumi ini serta menyapu bersih semua yang ada di atasnya, Tetapi Nuh dan keluarganya – istri dan anak-anak - yang hanya delapan orang saja yang selamat (Kejadian 7:7, 1 Petrus 3:20) dan sepasang-sepasang dari jenbis-jenis makhluk hidup untuk bekal kehidupan Nuh dan keturunannya kemudian sesudah air bah. Mereka selamat karena hanya merekalah yang berada dalam Bahtera.

Nuh dan keluarganya selamat karena mereka adalah orang-orang yang hidup bergaul dengan Allah. Mereka percaya kepada Allah, dan karenanya mereka mendapatkan kasih karunia. Dalam Ibrani 1:1-4, penulis Ibrani menulis bahwa Allah telah berulang-ulang kali dan dalam berbagai cara berbicara kepada manusia tentang rencananya bagi manusia, termasuk di dalamnya adalah tentang penyelamatan dan penghukuman. Pada zaman Nuh Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya melalui Bahtera, dan membinasakan yang tidak percaya dengan mendatangkan air bahwa menyelimuti seluruh bumi ini. Ketika air bah surut, Nuh dan keluarganya serta seluruh makhluk hidup keluar dari dalam bahtera memulai kehidupan yang baru, Tuhan Allah berjanji kepada Nuh bahwa tidak akan ada lagi air bah dan sebagai tandanya Allah memberikan pelangi (Kejadian 9:11-17).

E. Remcana Keselamatan pada masa kini

Selanjutnya bagaimana dengan kehidupan kita sekarang? Tuhan akan menyelamatkan yang percaya dan menghukum yang tidak percaya. Pada zaman ini berpijak pada perjanjian Allah tersebut bahwa Allah tidak akan menghukum dunia ini lagi dengan air bah, tetapi Rasul Petrus menceritakan dalam 2 Petrus 3:10-12 tentang penghukuman yang lebih mengerikan daripada air bah yakni bahwa Allah akan memusnahkan dunia ini kelak dengan api. Tetapi sebelum penghukuman itu datang, Allah masih memberikan kesempatan sampai saat ini orang-orang untuk berbalik kembali kepada-Nya (2 Petrus 3:9). Tuhan Allah menghendaki supaya semua orang dapat selamat. Kalau pada masa Nuh keselamatan disediakan melalui bahtera Nuh, tetapi pada masa sekarang ini keselamatan hanya disediakan di dalam Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah Jalan Keselamatan itu, Dia adalah Bahtera Kehidupan saat ini. Siapa yang percaya dan menerima-Nya pasti diselamatkan dan yang tidak percaya akan dihukum.

(Bersambung).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar